Friday, February 18, 2011

Nutrilon Commercial vs Levi's Go Forth to Work

It's just about my favorite tv commercial. Do you know that the Nutricia company in Indonesia  have to copy "Levi's Go Forth to Work" tv commercial?



I want to live my life to the absolute fullest, 
To open my eyes to be all I can be, 
To travel roads not taken, to meet faces unknown, 
To feel the wind, to touch the stars, 
I promise to discover myself, 
To stand tall with greatness, 
To chase down and catch every dream, 
LIFE IS AN ADVENTURE




What we are seeing now, to me, 
it seemed incredible, in fact, long ago that he saw an advertising campaign so amusing. This is the latest in Levi's jeans brand, an excellent call to action, or call to action accompanied by a traveling cinema across the United States. It is a singular campaign at least, you'll see and somewhat complex.

..in fact..?

Share/Bookmark

Thursday, February 17, 2011

Melihat Mimpi


"Apabila salah seorang dari kamu bermimpi sesuatu yang ia senangi, itu datangnya dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah dan boleh menceritakannya kepada orang lain. Dan jika bermimpi sesuatu yang ia benci, itu datangnya dari syeitan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari mimpi buruk tersebut, dan jangan bercerita kepada siapapun, karena mimpinya itu tidak akan membahayakannya."


..dan kelopak mata ku merekah, ku ulangi ucap istighfar sedikit dengan tergesa-gesa, mencoba memandangi rumput yang masih bermain dengan embun, dan jalanan yang masih tampak gelap, sungkan untuk diganggu. Ya, ini hanya sebuah mimpi, tidak begitu buruk namun tidak pula begitu baik. Ya Robbi. Apapun yang datang dari-Mu, sudah pasti baik untuk aku jalani. (dan air mata pun jatuh meski tak banyak). Astaghfirullah ada apa ini? Bergumpal pertanyaan akhirnya bersarang di dalam hati. Oh, sungguh tidak bisa dibiarkan. Harus aku mencari alasan, bergerak meski sangat dengan berhati-hati, mencari meski tak mengerti mengapa mesti dicari lagi, meneliti meski ini bukan permainan antara benda mini hidup atau mati, dan menyikapi apa yang seharusnya aku sikapi. Ku ikuti alur ceritanya dengan satu keyakinan, waktu ku hanya sekarang ya Robbi. Setidaknya jika kematian menghampiriku 1 menit lagi, aku tidak akan mati dengan rasa penasaran. 


..satu, dua, tiga hari aku jalani dengan ucap syukur tiada henti, Allah masih melimpahkan nikmatnya lebih dari 1 menit waktu. "Memang benar, gelombang tenang dipermukaan, ternyata tidak selamanya bisa menjadi satu acuan akan tenang juga dikedalaman." Setidaknya, semua hal mesti ditelaah dengan sangat hati-hati, biarkan mengalir, namun jangan biarkan terjun terlalu tinggi. Setidaknya..begitulah cara ku mengikuti alur cerita mencari hikmah dibalik mimpi ini.


..dan Alhamdulillah, jawaban dari beragam pertanyaan pun sudah aku dapatkan. Menebak satu demi satu isyarat, meyusun arti dengan memilah-milah kalimat, menghayati deskripsi dari berbagai narasi, dan.. Ketemu! 


..ini adalah salah satu rencana terindah, sudah menjadi kehendak-Nya agar dan untuk, memang, seperti ini :) Maka perjalanan pun dilanjutkan. Tidak bermimpi, tetapi adalah bagian mimpi yang insyaallah sebentar lagi akan menjadi saksi dalam menggapai ridho illahi. Amin yaa Rabbal'alamin. 


..ukhuwah itu akan terus mengalir tanpa batas dalam bait-bait doa yang tak akan pernah ada kata, selesai.
Share/Bookmark

Monday, February 07, 2011

This is such a Beautiful Hope


For the Rest of My Life

By: Maher Zain

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you



Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
OOOOO
And theres a couple words I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true



Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart
I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do



You`re my wife and my friend and my strength
And I pray we`re together eternally

Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
OOOO



And theres a couple word I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true



Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart now that you`re here
Infront of me I strongly feel love
And I have no doubt



And I`m singing loud that I`ll love you eternally

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true



Till the end of my time
I`ll be loving you.loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart

Allah Yang Maha Baik..
Aku selalu tersenyum ketika.. akan dan setelah terbangun dari tidur ku.. Itu artinya Aku masih memiliki waktu satu menit lagi untuk memanjatkan syukur dan doa yang tidak berujung.. Aku tau, Engkau menjawab doa ku satu persatu bahkan sekaligus, dengan bentuk yang nyata, secara kasat mata, atau bahkan sangat rahasia. Ada yang begitu cepat, namun ada pula yang rasanya begitu lambat.  Sudah menjadi Kehendak-Mu..
Allah Yang Maha Baik..
Aku selalu tersenyum ketika.. Engkau suguhkan aku akan pertemuan, tetapi.. maafkanlah aku duhai Rabb ku, aku selalu menangis ketika Engkau suguhkan aku akan perpisahan. Meski aku tau, sudah sunatullah nya begitu. 
Allah Yang Maha Baik..
Aku selalu tersenyum ketika.. mencicipi sedikit percikan nikmat milik-Mu di hati ini tentang nya.  Menemui meski sebatas mimpi. Menjangkau meski terlalu tinggi. Namun kali ini aku tidak menangis duhai Rabb ku, aku bahkan merasa semakin kuat, aku bahkan semakin kokoh, tidak lagi berjalan, aku kini berlari, menggapai apa yang ingin aku gapai. Menggapai-Mu.
Allah Yang Maha Baik..
Aku selalu tersenyum ketika.. 
Menanti kebijakan-Mu..
di setiap
Istikharah cinta ku


Share/Bookmark

Saturday, December 11, 2010

Posting Muslim Marriage : Mandiri setelah Menikah

Posting ini sebelumnya merupakan satu dari sekian banyak pembahasan penting di account facebook saya. Masih mencari dan terus bertanya dari berbagai sumber. Semoga ini sedikit memberikan pencerahan bagi kamu yang akan menikah dan telah menikah. 


Shared from istri solehah : "Menikahlah.. Maka engkau akan tahu betapa indahnya sebuah hubungan yang berlandaskan sebuah ikatan yang syah.. Tiada lagi hijab diantaramu.. yang ada adalah kesetiaan dan kemandirian.. Engkau akan terlepas dari ayah dan ibumu dan melewati sisa hidupmu bersama dia yg telah kau pilih.. melewati segala problematika kehidupan bersama. dlam suka maupun duka.."


Diskusi ringan antara saya (A) dan sahabat saya Sri Fitrianing Pratiwi (B)


A : ‎"Engkau akan terlepas dari ayah dan ibumu dan melewati sisa hidupmu bersama dia yg telah kau pilih.. melewati segala problematika kehidupan bersama. dlam suka maupun duka..". Ada yang bisa bantu saya, menerjemahkan maksud dari kalimat di atas teman-teman ku? :)

B : Di dalam Islam, seorang wanita adalah tanggung jawab orang tua nya, seorang ibu adalah tanggung jawab anak lelakinya, seorang saudara perempuan adalah tanggung jawab saudara lelakinya. Namun, ketika sudah menikah, seorang wanita adalah tanggung jawab suaminya. Ia telah terlepas dari tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka, senang dan susahnya adalah tergantung oleh suaminya, dan seorang wanita yang telah menikah harus taat pada suaminya (selama berada dalam ketentuan Allah,jika perintah suami melanggar ketentuan Allah, seorang istri tidak wajib patuh). Ketika wanita menguunakan uang suaminya ia harus meminta izin, ketika ia hendak bepergian hendaklah meminta izin suaminya terlebih dahulu....dsb...


Oleh karena nya, hendaklah memilih pasangan yang mempunyai pemahaman agama baik dan dapat menjadi imam dalam sholat dan dalam kehidupan. InsyaAllah seorang yang baik pemahaman agama dan baik ibadahnya, ketika ia sedang tidak menyukai istrinya ia tidak akan menyakitinya, dan ketika ia sedang sangat menyukai istrinya maka ia akan memperlakukannya seperti layaknya ratu. Suami adalah seorang nakhoda, keluarganya adalah kapalnya, ketika nakhoda tak pandai mengendalikan kapalnya, maka alamat akan karamlah kapal itu...
"Selamat berlayar, bagi yang sudah berada diatas kapal, bagi yang belum, pilihlah nakhoda yang handal dan terpercaya, insyaAllah, kapal akan selamat sampai tujuan"


A : nice sri... pertanyaan ku selanjutnya.. jika pasangan yang telah menikah, namun tetap menyusahkan kedua orang tuanya, apakah benar (aku pernah baca) si suami akan menanggung dosa...? Karena yang bertanggung jawab terhadap istri dan keluarga (nafkah) sesungguhnya adalah suami...bukan orang tua lagi?

B : Pada dasarnya yang menafkahi kehidupan setelah berumahtangga itu suami.Oleh karenanya dalam pembagian sistem warisan di dalam Islam lelaki mendapat porsi lebih besar, karena nantinya ia yang akan menanggung hidup wanita (subhanallah,,,memang segala ketentuan Allah itu ada hikmahnya). Namun pada prakteknya saat ini kenapa istri akhirnya juga ikut bekerja? Bersusahpayah sampai bersikut-sikutan dengan kaum pria demi mencari nafkah?

Zaman memang sudah berubah,,dunia saat ini tidak seluarbiasa di zaman Rasulullah, mungkin,,,saat ini kepedulian terhadap wanita sudah semakin berkurang. Sehingga meskipun sang wanita mempunyai saudara lelaki ataupun bahkan suami, namun tanggung jawab mereka terhadap wanita semakin menipis. Namun saya tidak berpandangan miring terhadap wanita yg bekerja. Saya juga bekerja. Alasannya, pertama untuk mengaplikasikan ilmu (meski sebenarnya tidak dengan harus bekerja), mengaktualisasikan diri (hampir sama dg yg pertama), yang paling utama sebenarnya adalah ingin menjadi wanita yang mandiri dari segi ekonomi. Dalam diri wanita saat ini, ada kekhawatiran akan kehidupan masa depannya jika harus bergantung saja secara ekonomi dengan pria, meskipun misalnya ia sudah bersuami atau punya saudara pria. Zaman sekarang, wanita harus berjuang sendiri jika ingin hidup berkecukupan, ia tidak bisa lagi bergantung secara total pada saudara lelakinya atau suaminya, atau anak lelakinya meskipun sebenarnnya di dalam Islam wanita adalah tanggung jawab mereka. Sebenarnya hal ini sangat menyedihkan jika kita mau merenungkan...
Artinya, kesadaran kita terhdap tanggung jawab kita dan pemahaman kita terhadap agama Islam semakin minim...


Di lain sisi, perang pemikiran semisal penyetarann gender, feminisme dsb...sedikit banyak mempengaruhi pemikiran kaum wanita, wa bil khusus muslimah....Andaikan zaman di saat seperti ketika Rasulullah masih hidup...dimana muslimah tidak perlu merisaukan kehidupannya,apa yang akan dia makan besok, bagaiman nasi anak-anaknya...ah...tapi masa itu tidak akan mungkin kembali...:(


B : itu penjelasan pengantarnya uli...
Menyusahkan disini maksudnya seperti apa?
Apakah maksudnya masih bergantung secara ekonomi?
Pada dasarnya kalau orang tua kita ridho dalam membantu, tidak menjadi masalah...(itu mungkin bentuk kasih sayang mer
eka, meskipun sebenarnya bukan tanggung jawab mereka lagi). Namun kalau kita sampai memaksa org tua yang berakibat org tua kesulitan dan sampai terlibat utang gara-gara kita atau sampai kehidupan mereka terlantar kita dan mereka tidak ridho terhadap kondisi itu. Sri kira kita memang berdosa.
tapi siapa yang berdosa? Apakah suami saja? Karena dia kepala rumahtangga?
Ini perlu kita cermati lagi.
Ingat setiap diri menanggung dosanya masing-masing. Dosa orang lain bukan kita yang menanggung dan sebaliknya. pertanggung jawabanpun masing-masing di akhirat. Menurut sri prinsipnya gini, jika sang suami dengan sengaja dan sadar melalaikan atau bahkan tidak sama sekali menjalankan tanggung jawabnya sbg suami dan kepala rumahtangga, sehingga berakibat istri dan anaknya terlantar, atau bahkan sampai menyulitkan kehidupan org tuanya, tentu saja dia berdosa, karena tidak bertanggung jawab. Apakah istri terlepas dari dosa, karena suami telah menanggung dosa? Belum tentu, jika istri ikut terlibat disana, misalnya ikut mempengaruhi suami untuk menyulitkan kehidupan org tua atau istri tidak pandai mengatur keuangan, dengan kebiasaannya berfoya-foya sehingga memaksa suami mencari penghasilan di jalan yang salah dan menghasilkan uang haram, maka sang istri seperti ini juga bersalah.
Lain halnya jika suami telah berusaha maksimal, namun belum juga mampu memenuhi kebutuhan keluarga sehingga mengakibatkan ia terpaksa harus bergantung secara ekonomi dengan orgtua, namun org tua nya pun ridho dan sang suami tetap bertekad untuk berusaha tidak bergantung lagi dg org tua, sri kira ini tidak masalah. Justru ini ladang pahala bagi org tua ^^
pssst...Sri kasi tau ya...sebenarnya uang penghasilan istri itu bukan hak suami dan suami tidak berhak mengambil uang penghasilan istrinya. Namun jika sang istri mau memberikan uang penghasilannya untuk membantu suami menafkahi keluarga, itu adalah "sedekah" istri pada suami..dan itu pahala....^^
Bukankah yang paling pertama berhak mendapat sedekah kita adalah saudara/orang terdekat? ^^
subhanallah...Maha Suci Allah..


A : trimakasi ya sayang.. seketika aku cuma bisa nundukin kepala.. niat ku semakin bulat sri.. semakin ingin mandiri.. tidak menyusahkan kedua orang tua ku lagi.. dan sekiranya aku pun juga bekerja, apa yang ku cari adalah infak ku untuk keluarga ku..itu pun insyaallah seizin suami ku kelak.. dan, perkerjaan ku juga insyaallah semakin mendekatkan ku pada kebaikan dan Rabb ku..

B : ya uli...
Kalau dunia saat ini sesempurna yang kita inginkan, tentu saja wanita manapun (yang normal) inginnya di rumah saja bersama buah hatinya, mendidiknya, mengamati setiap detik tingkah polah lucu sang belahan jiwa, mengamati perkembangan pesat si kecil, melayani suami , menyiapkan makanan buat keluarga, merawat diri dan kecantikan untuk suami, menjadikan rumahnya layaknya syurga...tidak perlu merasakn teriknya panas...peluh keringat, debu yang menyesakkan, bersikutan dengan kaum adam demi mencari sesuap nasi..bahkan kaum wanita dalam bekerja..sering mendapat perlakuan melecehkan...sedih rasanya...
namun dunia saat ini kiranya tidak memungkinkan untuk wanita bermimpi seperti itu ...Tapi Allah pun tau permasalahan kita, Ia tidak melarang wanita untuk mencari ilmu, beribadah di mesjid, atau pun bekerja...
Namun hendaknya adab-adabnya tetap dijaga, pilihlah pekerjaan yang tetap menjaga izzah (harga diri) wanita, tidak berbahaya dan mengancam keselamatan wanita, tidak membunuh sisi-sisi feminitas wanita, tidak membuat sang wanita lalai dalam kewajiban utamanya pada Allah dan keluarga...
Semoga pekerjaan kita...menjadi ladang pahala bagi kita...^^bismillah...


A : iya sri... aku juga pernah baca dari beberapa buah buku mengenai rezeki dari istri / uang nafkah dari istri itu bernilai sedekah atau infak.. 

Intinya.. aku punya pandangan bahwa ketika aku nikah nanti, maka tanggung jawab atas ku adalah sua
mi ku.. termasuk dari sisi ekonomi, dan aku ingin.. aku bisa hidup tanpa bergantung/menyusahkan siapapun kecuali suka duka antara aku dan suami ku.. semoga apa yang ada di benakku tidak pada jalan atau pemikiran yang salah.. insyallah .. aku selalu ingin bertukar pikiran dengan mu sayang.. semoga pahala yang berlipat ganda tercurah untuk mu dan keluarga mu ya... amin


B : Iya...sama2 uli...semoga Allah menggenapkan impian kita ya...^^
"Bermimpilah, berikhtiar lalu sempurnakanlah dengan doa dan tawakkal...insyaAllah, Allah akan menggenapkan mimpi2mu..."

A : Amin...
insyaallah :)

Pertanyaan yang sama, Saya (A) tujukan kepada salah satu Guru saya Bpk. Egi Bismo Subiakto by message : 
A : Ayah.. bersediakah ayah menjelaskan post di atas menjadi lebih gamblang, dengan point kemandirian, dan apakah yang sebenarnya yang dimaksud dgn "terlepas dari ayah dan ibu mu" setelah menikah itu ? Terimakasih ayah.. mohon bimbingannya..

B : Aslm, 
Ulie, maaf baru jawab ya..

Jika melihat tulisan tsb, terutama ttg point kemandirian, dapat di artikan, bhw seorang wanita jika sudah menikah,maka dpt di ibaratkan sudah pindah kapal. Artinya, sudah tidak di kapal kedua orangtua nya, sudah punya kapal sendiri dg nahkoda nya Suami yg sekaligus menjadi Imam nya. Pengabdian istri sudah kepada Suami (selain Allah). bersama suami menata kapal tsb. Orangtua tidak ikut campur di dalam kapal tsb. Namun hubungan antara anak dg orangtua tetap ada, dan hrs dijaga. Demikian singkatnya ya Ulie, mohon maaf jika jawabannya kurang memuaskan.
Insyaallah nanti jika tulisan mengenai hal tsb sdh siap, maka saya akan kirim alamat blog nya ya.

Waslm,
Egi

*be continued

Share/Bookmark