Showing posts with label HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts

Wednesday, March 16, 2011

Nasehat Ibu Kepada Calon Ibu

Wahai Allah, segala puji-pujian yang hanya pantas untuk-Mu
Wahai Zat tempat bergantung seluruh makhluk


     Seorang ibu menasehati putrinya sambil menangis dan tersenyum :
"Wahai putriku, engkau telah menghadapi hidup baru. Hidup yang Bapak dan Ibumu tidak mendapat tempat, begitu juga salah satu dari saudaramu. Dalam dunia itu engkau akan menjadi teman setia bagi suamimu. Suamimu tidak akan rela ada orang lain yang ikut campur dalam urusanmu dan suamimu, walau mereka yang masih memiliki hubungan darah denganmu. Jadilah engkau istri dan ibu baginya. Jadikan dia merasa bahwa engkau adalah segala-galanya dalam hidup dan dunianya. Ingatlah bahwa seorang laki-laki adalah "bocah besar" yang sedikit saja kalimat manja akan membahagiakannya. Jangan engkau membuat dia merasa bahwa pernikahannya denganmu menjadikan kamu terpisah dari keluarga dan orangtuamu. Perasaan seperti ini juga dirasakan olehnya. Dia telah meninggalkan rumah kedua orangtuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara kamu dan dia adalah perbedaan antara laki-laki dan wanita. Seorang wanita selalu merindukan keluarga dan rumah dimana dia dilahirkan, tumbuh dan belajar di dalamnya. Tetapi dia harus membiasakan dirinya untuk hidup dalam suasana baru. Dia harus membiasakan diri dengan seorang laki-laki yang telah menjadi suami, pelindung dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru!"
     "Wahai putriku, inilah kehidupan masa kini dan masa depanmu. Inilah keluargamu yang kalian bangun berdua. Aku tidak akan menuntut kamu melupakan Ibu, Ayah dan Saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu, wahai putri kesayanganku. Lagi pula, bagaimana seorang ibu melupakan buah hatinya? Akan tetapi aku minta kepadamu, cintailah suamimu, hidup dan bahagialah bersamanya."
     Belajar bersabar dari wanita yang bernama Asiyah (istri fir'aun), setia dari Khadijah (istri Rasulullah sallallahu 'alaihi wassallam yang pertama), jujur dari Aisyah (istri Rasulullah yang paling muda umurnya), dan teguh hati dari Fatimah (putri Rasulullah).
[Satu dari sekian banyak lembar-lembar favoritku di dalam Buku Menjadi Wanita Paling Bahagia-DR. Aidh al-Qarni]
     Kepada yang terhormat :
Calon Suami ku..
Sebelum engkau ambil aku dari kedua orangtuaku
Ketahuilah bahwa aku hanyalah perempuan kecil yang dulu belajar berdiri dalam genggaman ibuku
Ketahuilah bahwa aku hanyalah perempuan kecil yang dulu belajar berjalan dalam rangkulan ayahku
Ketahuilah bahwa aku hanyalah perempuan kecil yang dulu selalu belajar segala hal besar dalam hidupku dari keluarga kecilku.
     Aku mengerti, sudah saatnya padamu aku mengabdi.
Memanjakanmu dengan berbagai menu yang kamu tau, ibuku lah yang mengajariku.
Memanjakanmu dengan belaian kasih sayang, dan kelembutan yang kamu tau bahwa aku mempelajarinya dari cara ibu membelaiku.
Memanjakanmu dengan tatapan dan tunduk bukan sendu, tatapan yang hangat memancarkan rindu, tatapan itu seperti milik ibu ketika menina bobok-kan aku saat usiaku masih tujuh tahun, dulu.
     Ketahuilah sayang, duhai calon suami ku, 
Berterimakasihlah pada ibuku, karena beliau sudah merelakanku untuk mu.
Kamu tau sayang, itu hal yang sangat berat baginya.
Tetapi beliau jugalah yang paling mengerti duhai kekasihku, bahwa engkaulah pria yang mencintaiku sepenuh hatimu.
Aku hanya meminta, jangan engkau curiga padaku, karena ayah, ibu, dan kamu masing-masing memiliki ruang terpenting dalam hidupku.
dan..kau takkan mengerti betapa perempuan selalu ingin dimanja ketika dia kecil, remaja, bahkan ketika telah dewasa sekalipun.
Jangan khawatir sayangku, aku tak banyak permintaan untuk hal yang satu ini.
Aku hanya meminta doa-doa tulus dari dua bibir indahmu.
Karena "MEMILIKI CINTA MESKI SEBATAS DOA", adalah hal penting dalam hidupku.
     Aku adalah seorang perempuan, yang kelak akan memiliki dua ibu dalam hatiku.
Biarkan aku berekspresi dalam sela-sela senyum ku duhai lelaki gagah!
Perempuan yang Allah pilihkan untukmu adalah perempuan yang tidak lebih hebat dari perempuan yang melahirkanmu, namun aku adalah perempuan yang insyaallah akan melahirkan anak-anak hebat kita.
     ".....dedicated to seorang laki-laki biasa atau seorang ikhwan biasa yang telah dianugrahkan oleh Alloh dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan Alhamdulillah telah terlahir dalam keadaan seorang muslim......"
Share/Bookmark

Friday, March 04, 2011

..Ikhwan dan Akhwat sejati ?


Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: “Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati”. Sang Ibu tersenyum dan menjawab. “Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa . Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan. Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, ia kembali bertanya, ”Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”. Sang Ibu memberinya buku dan berkata  “Pelajari tentang dia”. Ia pun mengambil buku itu “MUHAMMAD”, judul yang tertulis di buku itu.
Seorang anak perempuan, bertanya kepada ibunya, “Ibu seperti apakah akhwat sejati itu?”. Sang ibu menjawab, “Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang manis dan menawan, tetapi dari kasih sayangnya pada karib kerabat dan orang disekitarnya. Pantang baginya mengumbar aurat, dan memamerkannya kepada siapapun, kecuali pada mahramnya. Dia senantiasa menguatkan iltizam dan azzamnya dalam berghadul bashar dan menjaga kemuliaan diri, keluarga serta agamanya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lembut dan mempesona, tetapi dari lembut dan tegasnya tutur dalam mengatakan kebenaran. Dia yang senantiasa menjaga lisan dari ghibah dan namimah. Pantang baginya membuka aib saudaranya. Dia yang memahami dan merasakan betul bahwa Allah swt senantiasa mengawasi segala tindak-tanduknya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk gemulainya kala ia berjalan, tetapi dari sikap bijaknya memahami keadaan dan persoalan-persoalan. Dia yang senantiasa bersikap tulus dalam membina persahabatan dengan siapapun, di manapun dirinya berada. Tak ada perbendaharaan kata “cemburu buta” dalam kamus kehidupannya. Dia senantiasa merasa cukup dengan apa yang Allah swt anugerahkan untuknya, juga atas nafkah yang diberikan sang suami kepadanya. Tak pernah menuntut apa-apa yang tidak ada kemampuan pada sang qowwam di tengah keluarga. Sabar adalah aura yang terpancar dari wajahnya. Sifat tawadhu’ adalah pakaian yang senantiasa dia pakai sepanjang perguliran zaman.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia menghormati dan menyayangi orang-orang di tempat kerja (wajihah dakwah), tetapi dari tata caranya menghormati dan menyayangi siapapun dan di manapun tanpa memandang status yang disandangnya. Dia yang dilihat menyejukkan mata dan meredupkan api amarah. Baitii jannatii selalu berusaha ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah tangga. Totalitas dalam menyokong dakwah suami dan berdarmabakti mengurus generasi penerus yang berjiwa Rabbani
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh hati padanya, tetapi dilihat dari kesungguhannya dalam berbakti dan mencintai Allah dan Rasulullah. Dia yang selalu menghindari sesuatu yang syubhat terlebih hal-hal yang diharamkan-Nya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari pandainya dia merayu dan banyaknya air mata yang menitik, tetapi dari ketabahannya menghadapi liku-liku kehidupan. Pancaran kasih sayang melesat tajam dari tiap nada bicara yang keluar dari bibirnya. Dia yang memiliki perasaan yang tajam untuk selalu berbuat ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari merdunya suara kala bertilawah Qur’an dan banyaknya hadits yang ia hafal, tetapi dari keteguhan dan konsistennya mengamalkan kandungan keduanya. Dia selalu berusaha mengajarkan pada yang belum memahaminya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dijadikannya sebagai suluh penerang serta pijakan dalam menelusuri lorong-lorong gelap kehidupan.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari tingginya gelar yang disandangnya serta luasnya wawasan ataupun lincahnya ia bergerak, tetapi tingginya ghirah untuk menuntut ilmu dan mengamalkan syariat secara murni dan berkesinambungan. Ilmu yang bermanfaat adalah tongkat yang ia pegang.
Menjadi akhwat sejati, niscaya akan membuat iri dan cemburu para bidadari, menjadi dambaan bagi mereka para insan berjiwa Rabbani, menjadi dambaan bagi mereka para pemilik ruh dakwah dan jihadiyah, serta para hamba Allah yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu.”
Menjadi Akhwat sejati, Seperti yang dicontohkan oleh khadijah, Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah, Fathimah Az Zahra, dan para shahabiyah radiyallohu’anha ajma’in.
Tulisan ini saya ketik ulang dari sebuah Buku : Surat Cinta Untuk Sang Aktivis. (Musafir Hayat )

Share/Bookmark

Apakah Kamu Menyadarinya?! [Do You Realize That?]

     "Kita dilahirkan dengan dua mata di bagian muka, karenanya kita tidak boleh selalu menatap ke belakang, tetapi seharusnya memandang apa-apa yang ada di hadapan kita, bahkan memandang jauh ke muka.
     Kita dilahirkan memiliki dua daun telingan : kiri dan kanan, seharusnya kita mendengar persoalan dari dua belah pihak, seharusnya kita bersedia menerima pujian dan celaan, lalu menetapkan mana yang benar dari keduanya.
     Kita dilahirkan dengan otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak. Meski tampak sangat miskin, tapi sesungguhnya kita kaya karena tidak seorangpun dapat mencuri isi otak kita.
     Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, tapi satu mulut. Mulut bisa menjadi senjata yang tajam, ia dapat melukai, dapat mencumbu dan dapat membunuh. Karenanya, sedikitkan berbicara, banyakkan mendengar dan melihat.
     Kita lahir dengan hanya satu jantung hati, terletak jauh di bawah tulang rusuk. Ini mengingatkan agar kita menghargai dan memberikan cinta dari lubuk hati yang dalam. Belajarlah untuk mencintai dan dicintai, tapi janganlah kau berharap orang-orang akan mencintaimu seperti, atau sebanyak cintamu kepada mereka. Berikan cintamu tanpa mengharapkan balasan niscaya kau dapati cinta menjadi lebih indah." (Author unknown)

INGATLAH..

Ingatlah, bukan tugasmu untuk mengusahakan agar orang mencintaimu, tapi tugasmu adalah mencintai orang.
Percayalah pada keajaiban, tapi jangan selalu bergantung padanya.
Apa yang kau lakukan hari ini membuatmu lebih dekat ke tempat yang kau inginkan esok.
Jangan lupa, kita kelak akan dinilai berdasarkan apa yang kita berikan, bukan apa yang kita terima.
Ingatlah, kata-kata yang penuh kasih cepat menyembuhkan.
Siaplah untuk menerima ketidaknyamanan sementara untuk mendapatkan kebaikan selamanya.
Bila kau dengar ucapan ramah tentang seorang teman, ucapkan demikian juga kepadanya.

(sekumpulan kata bijak, yang terkadang perlu untuk dibaca ulang.)
NB : tetep, dahulukan mengulang Al-Quran than the others yah :) 


Share/Bookmark

Sunday, February 20, 2011

Karakter Nafsu di dalam Pesta Perkawinan

Karakter Nafsu di dalam Pesta Perkawinan (Astaghfirulloh..)

Saat pertama menerima undangan maka sombong, dengki, dan merasa lebih utama, mendorong kita untuk bergibah tentang tokoh dalam undangan: dalam bentuk obrolan keluarga, telepon, layaknya infotainment.

Pada saat hari H, maka yang terbersit dalam diri adalah harus tampil dengan baju terbaik, kendaraan terbaik, parfum terbaik, aksesoris terbaik, dimana ini tidak lain adalah karakter dari si riyaa’ yang mendorong melakukan sesuatu bukan karena Allah.

Saat melihat ruangan yang megah, si dengki keluar, karakter dengki seperti kata Aa’ Gym adalah senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Hati menjadi keruh.

Saat melihat hidangan terhampar, si tamak dan si syahwat mulai keluar, nanti kamu harus makan ini, itu, ini itu, dengan jumlah segini segitu.


Saat melihat wanita yang mengumbar aurat, si syahwat mulai membuai dan menggelora. Hati sudah mulai kotor, dan kadang imajinasi lebih berani lagi. astaghfirullah.

Tampak luar tidak ada satupun syariat yang dilanggar, di dalam, hati sudah ibarat septic tank.

Si sombong, si lebih utama, si dengki tidak mau kalah mengomentari pengantin, tamu, hidangan, acara dan lain-lain. ..jelek amat yang cowoknya, jelek amat ya ceweknya, ngga mecing banget sih dandanannya, makanannya dikit amat, gak berkualitas, acaranya bosenin, bla..bla..bla.

Saat sebagian tamu sudah dipersilahkan menyalami mempelai sebagian tamu antri, dan sebagian lagi sudah menyerbu hidangan. Si riyaa’ yang terbungkus dalam kemasan jaim melarang saya untuk mendekati hidangan, ingat kamu harus jaga imej, jangan kaya orang kelaparan! Jadi saya tidak menyerbu hidangan karena imej bukan karena mengekang diri dari tamak dan syahwat.

Saat antri salaman ada orang nyrobot antrian, si marah mulai terusik, mulai memaki dalam diri, ini orang kampung banget sih, baju bagus kelakuan kampung banget. Apalagi kalau antrian dihentikan karena ada pejabat hampir semua nafsu amarah keluar: ini nih yang bikin rusak negara, kaya apa sih tampangnya, hmmm…dekil, pendek, gendut perutnya, banyak makan uang rakyat sih.

Saat antri makanan terutama kambing guling demikian juga, melihat orangtua mengambil makanan banyak si dengki, si marah, si sombong mulai memaki, ini orangtua mau mati aja pake banyak makan, stroke baru rasa loe……astaghfirullah

Demikianlah karakter nafsu amarah dirasakan dalam suatu undangan perkawinan. Ini baru undangan perkawinan, dimana dari menerima undangan sampai pulang tidak ada pelanggaran fiqih yang biasa kita sebut sebagai kemaksiatan, namun dilihat dari hakikatnya maka kemaksiatan hati tersebut juga akan diperhitungkan oleh Allah.

Astaghfirullah.....

Copy and paste from : http://met-pagi.blogspot.com/
Share/Bookmark

Thursday, February 17, 2011

Melihat Mimpi


"Apabila salah seorang dari kamu bermimpi sesuatu yang ia senangi, itu datangnya dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah dan boleh menceritakannya kepada orang lain. Dan jika bermimpi sesuatu yang ia benci, itu datangnya dari syeitan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari mimpi buruk tersebut, dan jangan bercerita kepada siapapun, karena mimpinya itu tidak akan membahayakannya."


..dan kelopak mata ku merekah, ku ulangi ucap istighfar sedikit dengan tergesa-gesa, mencoba memandangi rumput yang masih bermain dengan embun, dan jalanan yang masih tampak gelap, sungkan untuk diganggu. Ya, ini hanya sebuah mimpi, tidak begitu buruk namun tidak pula begitu baik. Ya Robbi. Apapun yang datang dari-Mu, sudah pasti baik untuk aku jalani. (dan air mata pun jatuh meski tak banyak). Astaghfirullah ada apa ini? Bergumpal pertanyaan akhirnya bersarang di dalam hati. Oh, sungguh tidak bisa dibiarkan. Harus aku mencari alasan, bergerak meski sangat dengan berhati-hati, mencari meski tak mengerti mengapa mesti dicari lagi, meneliti meski ini bukan permainan antara benda mini hidup atau mati, dan menyikapi apa yang seharusnya aku sikapi. Ku ikuti alur ceritanya dengan satu keyakinan, waktu ku hanya sekarang ya Robbi. Setidaknya jika kematian menghampiriku 1 menit lagi, aku tidak akan mati dengan rasa penasaran. 


..satu, dua, tiga hari aku jalani dengan ucap syukur tiada henti, Allah masih melimpahkan nikmatnya lebih dari 1 menit waktu. "Memang benar, gelombang tenang dipermukaan, ternyata tidak selamanya bisa menjadi satu acuan akan tenang juga dikedalaman." Setidaknya, semua hal mesti ditelaah dengan sangat hati-hati, biarkan mengalir, namun jangan biarkan terjun terlalu tinggi. Setidaknya..begitulah cara ku mengikuti alur cerita mencari hikmah dibalik mimpi ini.


..dan Alhamdulillah, jawaban dari beragam pertanyaan pun sudah aku dapatkan. Menebak satu demi satu isyarat, meyusun arti dengan memilah-milah kalimat, menghayati deskripsi dari berbagai narasi, dan.. Ketemu! 


..ini adalah salah satu rencana terindah, sudah menjadi kehendak-Nya agar dan untuk, memang, seperti ini :) Maka perjalanan pun dilanjutkan. Tidak bermimpi, tetapi adalah bagian mimpi yang insyaallah sebentar lagi akan menjadi saksi dalam menggapai ridho illahi. Amin yaa Rabbal'alamin. 


..ukhuwah itu akan terus mengalir tanpa batas dalam bait-bait doa yang tak akan pernah ada kata, selesai.
Share/Bookmark

Tuesday, November 09, 2010

"The 4 Wives in Our Lives"

Alhamdulillah.. you can also read this story in this link Story of The 4 Wives.
Seorang pedagang kaya memiliki 4 orang istri. Istri ke-4 adalah yang paling dicintainya. Ia memberinya berbagai perhiasan yang mahal dan memperlakukannya dengan lemah lembut. Ia merawatnya dan tidak memberinya sesuatu kecuali yang terbaik.




Ia juga sangat mencintai istrinya yang ke-3, merasa bangga padanya, dan selalu memamerkannya kepada teman-temannya. Meskipun demikian, si pedagang selalu merasa khawatir kalau sewaktu-waktu ia lari dengan pria lain. 


Ia juga mencintai istrinya yang ke-2, karena ia penuh perhatian, berwatak sabar, dan merupakan orang kepercayaannya. Kapan pun ia menghadapi persoalan, istrinya ini selalu menolongnya, dan begitu pula ketika ia meghadapi masa-masa sulit.


Adapun istri pertamanya, ia sangat setia, dan telah berjasa dalam mengurus kekayaan, bisnis dan rumah tangganya. Meskipun demikian, si pedagang tidak mencintai istri pertamanya ini, walaupun sang istri sangat mencintainya, ia hampir tidak pernah memperhatikan.


Suatu hari, si pedagang jatuh sakit dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia mengenang kehidupannya yang mewah selama ini lalu berkata kepada dirinya sendiri, "Aku mempunyai 4 orang istri, tapi sewaktu mati nanti, aku akan sendiri. Alangkah kesepiannya aku nanti!"


Ia kemudian bertanya kepada istrinya yang ke-4, "Kau paling kucintai. Aku telah memberimu berbagai pakaian yang baik, dan mencurahkan banyak perhatian kepadamu. Sekarang ajalku sudah dekat, maukah kau nanti mengikutiku dan menemaniku di kubur?"


"Sama sekali tidak!" jawab istri keempatnya sambil berjalan meninggalkannya.


Jawaban itu sangat menyakitkan, seakan pisau tajam menghujam tepat di jantungnya.


Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada istrinya yang ketiga, "Selama hidupku aku sangat mencintaimu. Sekarang ajalku telah dekat, maukah kau nanti mengikutiku dan menemaniku di kubur?"


"Tidak!" jawabnya. "Kehidupan di sini sangat indah. Aku akan kawin lagi bila kau telah tiada."


Sang pedagang merasa sangat sedih.


Ia kemudian bertanya kepada istrinya yang kedua,"Aku selalu memohon pertolonganmu dan kau selalu membantuku. Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Bila aku mati nanti, maukah kau mengikutiku dan menemaniku di kubur?"


"Maafkan aku, aku tidak dapat menolongmu kali ini," jawabnya. "Paling-paling aku hanya bisa mengantarmu sampai ke kubur."


Jawaban itu datang bagaikan halilintar. Si pedagang seakan binasa. Tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan berangkat bersamamu, aku akan mengikutimu kemana pun kau pergi."


Si pedagang mendongakkan kepalanya dan melihat istri pertamanya. Tubuhnya kurus kering, seakan kekurangan gizi. Dengan penuh penyesalan ia berkata, "Seharusnya aku dahulu lebih memperhatikanmu."


Ketahuilah, sebenarnya kita semua mempunyai 4 istri dalam kehidupan ini.
Istri keempat adalah tubuh kita. Berapapun banyak waktu dan usaha untuk membuatnya cantik, ia tetap akan meninggalkan kita bila kita telah mati.


Istri ketiga adalah kekayaan dan status kita. Bila kita meninggal, semuanya akan menjadi milik orang lain.


Istri kedua adalah keluarga dan teman. Seberapapun dekatnya mereka dengan kita, mereka paling jauh hanya bisa mengantarkan kita ke kubur.


Istri pertama adalah jiwa kita. Sering kali kita tidak memperdulikannya sewaktu kita mencari kekayaan dan memperturutkan kesenangan hawa nafsu. Padahal dialah nanti yang akan mengikuti kemana pun kita pergi.


Mungkin adalah gagasan yang baik untuk memelihara dan menguatkan jiwa kita sejak saat ini juga daripada kita kelak menyesal di atas pembaringan kematian. (Author Unknown)
Share/Bookmark

Saturday, November 06, 2010

"Jadilah Wanita yang Berjiwa Cantik, Karena Alam Raya Ini Indah"

Bintang-bintang di langit sungguh indah dipandang. Ini tidak diragukan. Keindahan yang menawan hati. Keindahan yang seringkali terjadi, yang beraneka warna dan waktunya. Keindahan pagi hari berbeda dengan keindahan sore hari. Keindahan waktu terbit berbeda dengan keindahan waktu terbenam. Keindahan malam purnama berbeda dengan keindahan malam tanpa cahaya rembulan. Keindahan langit yang cerah berbeda dengan keindahan langit yang diliputi awan. Bahkan keindahan itu berbeda pada jam tertentu dengan jam yang lain, pandangan tertentu dengan pandangan yang lain, dari kamar tertentu dengan kamar yang lain. Seluruhnya adalah keindahan yang menawan setiap hati.

Bintang tertentu menyendiri di sana, seperti mata yang indah dan memancarkan cinta dan sarapan. Nun jauh di sana ada dua bintang yang menyendiri yang tersentuh oleh kebisingan. Ada juga bintang-bintang yang berkumpul saling berpelukan dan menyebar di sana-sini. Seolah-olah bintang-bintang itu membentuk forum diskusi di hamparan langit. Ada rembulan yang pemurah dan tenang pada satu malam. Ada rembulan yang berkilauan pada satu malam. Ada rembulan yang kecil dan redup pada satu malam. Ada rembulan yang kecil dan akan membesar pada satu malam. Ada rembulan yang mengecil dan akan hilang pada satu malam.

Ruang angkasa ini, tidak akan pernah bosan manusia memandangnya dan pandangan manusia tidak akan sampai pada ujungnya. Sesungguhnya itulah keindahan. Keindahan yang dimiliki oleh manusia untuk dinikmati. Akan tetapi manusia tidak memiliki kalimat yang cukup untuk menuturkan keindahan itu. 

Share/Bookmark

Wednesday, November 03, 2010

"Cemburu..."


Bismillahirrohmanirrohim..istighfar..semoga Allah selalu membimbing ucapanku, lidahku, hatiku, dan hidup mati ku selalu dalam addiin. 

Kata demi kata membuncah di rongga kepalaku. Ketika telah ku tumpahkan sedikit bagiannya ke dalam note ini, itu artinya, aku bersedia.. untuk berbagi. 

Waktu berjalan begitu cepat, mengalahkan semua cerita yang hanya bisa diingat, dilihat dalam album kenangan, atau bahkan terlupakan begitu saja. Masa-masa kecil ku, hingga aku beranjak remaja, dan kini, insyaallah aku telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. I was going through so much in life. Peer presure was a problem, along with other problems. Ada yang manis, ada yang pahit atau bahkan hambar tiada rasa pada waktu itu, tapi tidak demikian rasanya untuk diingat saat tahun-tahun terlampaui. Itu menjadi cerita yang sangat indah, untuk dikenang.

Jika semua ini sesuai dengan rencana-Nya (insyaallah), aku akan melangkah ke tahap terpenting dalam hidup ku, jihad ku sesungguhnya sebagai seorang wanita muslimah. (Semoga Allah selalu mebimbing kami berdua dalam kebaikan). Tiada persiapan khusus yang menguras lahir bathin ku. Aku bahkan semakin bersemangat melewati waktu yang terus berjalan, berjalan semakin dekat pada waktu yang telah ditentukan, kapan...

Namun, tidak begitu ceritanya bila aku mengingat satu sosok yang saat ini sudah mulai "cemburu" pada ku. Pipi ku selalu basah dibuatnya, bahkan kerongkongan pun menjadi sakit, karena aku harus menahan sesegukan ku agar tidak terdengar di heningnya malam. Beliau menjadi begitu manja sekali pada ku belakangan ini. Tidak bisa dipungkiri, aku sangat mencintainya. Biarpun sosok itu tak pernah secara langsung mengungkapkan isi hatinya padaku, namun aku sangat memahami. 
"Mamah.."
Dia adalah ibu ku. Wanita luar biasa yang telah membesarkan putri pertamanya, mulai dari melahirkan, menyusui, membesarkan bahkan mendidik ku menjadi seperti ini sekarang. Relakah ia bila satu-satunya putri yang ia miliki itu akan pergi meninggalkannya..? Setelah 23 tahun kami selalu bersama.. (Ya Rahman..Ya Rahiim..Ya..Wadduud..Peliharalah kedua orang tua ku di dalam surga mu kelak..) Amin. Tiada balasan yang patut aku persembahkan, selain kenikmatan dari Mu Yang Maha Kaya..Ya Muujiiib.. Allahumma amin..

Ibu ku, tidak mendidik ku dengan nasehat-nasehat yang lembut dan panjang, tetapi dari sikapnya yang tegas, sehingga aku mengerti yang dia ingin kan adalah agar aku menjadi sosok wanita yang mandiri dan kuat. Ibu ku tidak mendidik ku dengan, segalanya tersedia untuk dinikmati, tetapi berusahalah agar aku akhirnya mengerti. Dia tidak melatih ku untuk bersikap seolah akulah yang paling benar, tetapi aku lah manusia yang banyak melakukan kesalahan sehingga harus dilakukan banyak pembelajaran. Ibu ku tidak selalu mengantarkan ku kemanapun aku ingin berjalan, tetapi dia selalu menunjukkan ku arah, kemudian membiarkan ku berjalan hingga aku menemukan sendiri, apa yang ingin aku nikmati. Ibu ku tidak mengajari ku bait-bait kata yang menyentuh, tetapi ia mengajari ku menggunakan perasaan. Ibu ku tidak tergesa-gesa membangunkan ku saat aku terjatuh karena kasihan, tetapi dia hanya melihat ku dari kejauhan, agar aku bisa kembali berdiri sendiri meski perlahan. Tak jarang, ibu ku tidak sependapat dengan ku, yang kerap kali  tertidur dengan bantalan-bantalan buku berserakan. Ia selalu berkata pada ku "Cukup satu buku jika kamu hendak mempelajari segala ilmu, AL-QURAN !". 

Kini, aku telah terlatih dengan didikan-didikan beliau. Walau kadang kerap kali aku melakukan kesalahan dan melukai hatinya, tetapi aku tau jauh didalam hatinya, dia sangat bangga memiliki putri seperti ku. Tak banyak cerita yang dia berikan pada ku saat ini, meski aku tau, sangat banyak kekhawatiran yang saat ini bertempat difikirannya..dilubuk hati terdalamnya. Ketika aku mengarahkan perbincangan ku yang mengingatkan nya pada waktu moment itu akan datang, dia selalu bersikap dingin dan mengalihkan pembicaraan ku. Bukan tak suka, tetapi dia sedang menikmati waktu nya bersama ku. Hanya itu saja.

Mamah.. di sepertiga malam, aku selalu mendengar mama bercerita..bukan bercerita pada ku, tetapi pada satu-satunya tempat mamah selalu  mengadu di atas sajadah hijau mamah.. Setiap malam, mamah selalu menyebut nama ku beeerulang kali dalam doa-doa mama. Aku tau, aku tau ibu ku tak kan pernah bercerita pada siapapun akan perasaannya saat ini, kecuali dalam tahajud tahajud nya yang penuh dengan doa dan linangan air mata. (Ya Allah ampuni aku..). 

Ya.. 
Ibu.. Ibu.. dan Ibu..
Tidak ada yang luput dari ketulusan hati seorang ibu. Tak kan pernah cukup untuk menceritakan betapa luasnya hati seorang ibu. Tak kan pernah bisa tergambarkan betapa bangga nya aku memiliki ibu seperti "mamah". Telah sampai padaku ilmu yang bermanfaat mah.. Telah sampai padaku ilmu yang mengenalkanku pada Tuhan ku yang wajib aku sembah..satu-satu Tuhan tempat aku bersyukur dengan adDiin, agama Nya, dengan hijabku, dengan lisanku, dengan perbuatanku dan dengan doa-doa mamah yang selalu menyertai ku mah. Bukan kah Allah menitipkan anak sebagai amanah sekaligus cobaan bagi hamba-Nya? Semata hanya untuk selalu mengingat Allah. 

Semoga Allah selalu menguatkan hati kita mah.. atas waktu yang selalu berjalan..
"How i love you mom.."

Share/Bookmark