Showing posts with label MOTIVATION. Show all posts
Showing posts with label MOTIVATION. Show all posts

Friday, March 04, 2011

..Ikhwan dan Akhwat sejati ?


Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: “Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati”. Sang Ibu tersenyum dan menjawab. “Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa . Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan. Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, ia kembali bertanya, ”Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”. Sang Ibu memberinya buku dan berkata  “Pelajari tentang dia”. Ia pun mengambil buku itu “MUHAMMAD”, judul yang tertulis di buku itu.
Seorang anak perempuan, bertanya kepada ibunya, “Ibu seperti apakah akhwat sejati itu?”. Sang ibu menjawab, “Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang manis dan menawan, tetapi dari kasih sayangnya pada karib kerabat dan orang disekitarnya. Pantang baginya mengumbar aurat, dan memamerkannya kepada siapapun, kecuali pada mahramnya. Dia senantiasa menguatkan iltizam dan azzamnya dalam berghadul bashar dan menjaga kemuliaan diri, keluarga serta agamanya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lembut dan mempesona, tetapi dari lembut dan tegasnya tutur dalam mengatakan kebenaran. Dia yang senantiasa menjaga lisan dari ghibah dan namimah. Pantang baginya membuka aib saudaranya. Dia yang memahami dan merasakan betul bahwa Allah swt senantiasa mengawasi segala tindak-tanduknya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk gemulainya kala ia berjalan, tetapi dari sikap bijaknya memahami keadaan dan persoalan-persoalan. Dia yang senantiasa bersikap tulus dalam membina persahabatan dengan siapapun, di manapun dirinya berada. Tak ada perbendaharaan kata “cemburu buta” dalam kamus kehidupannya. Dia senantiasa merasa cukup dengan apa yang Allah swt anugerahkan untuknya, juga atas nafkah yang diberikan sang suami kepadanya. Tak pernah menuntut apa-apa yang tidak ada kemampuan pada sang qowwam di tengah keluarga. Sabar adalah aura yang terpancar dari wajahnya. Sifat tawadhu’ adalah pakaian yang senantiasa dia pakai sepanjang perguliran zaman.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia menghormati dan menyayangi orang-orang di tempat kerja (wajihah dakwah), tetapi dari tata caranya menghormati dan menyayangi siapapun dan di manapun tanpa memandang status yang disandangnya. Dia yang dilihat menyejukkan mata dan meredupkan api amarah. Baitii jannatii selalu berusaha ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah tangga. Totalitas dalam menyokong dakwah suami dan berdarmabakti mengurus generasi penerus yang berjiwa Rabbani
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh hati padanya, tetapi dilihat dari kesungguhannya dalam berbakti dan mencintai Allah dan Rasulullah. Dia yang selalu menghindari sesuatu yang syubhat terlebih hal-hal yang diharamkan-Nya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari pandainya dia merayu dan banyaknya air mata yang menitik, tetapi dari ketabahannya menghadapi liku-liku kehidupan. Pancaran kasih sayang melesat tajam dari tiap nada bicara yang keluar dari bibirnya. Dia yang memiliki perasaan yang tajam untuk selalu berbuat ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari merdunya suara kala bertilawah Qur’an dan banyaknya hadits yang ia hafal, tetapi dari keteguhan dan konsistennya mengamalkan kandungan keduanya. Dia selalu berusaha mengajarkan pada yang belum memahaminya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dijadikannya sebagai suluh penerang serta pijakan dalam menelusuri lorong-lorong gelap kehidupan.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari tingginya gelar yang disandangnya serta luasnya wawasan ataupun lincahnya ia bergerak, tetapi tingginya ghirah untuk menuntut ilmu dan mengamalkan syariat secara murni dan berkesinambungan. Ilmu yang bermanfaat adalah tongkat yang ia pegang.
Menjadi akhwat sejati, niscaya akan membuat iri dan cemburu para bidadari, menjadi dambaan bagi mereka para insan berjiwa Rabbani, menjadi dambaan bagi mereka para pemilik ruh dakwah dan jihadiyah, serta para hamba Allah yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu.”
Menjadi Akhwat sejati, Seperti yang dicontohkan oleh khadijah, Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah, Fathimah Az Zahra, dan para shahabiyah radiyallohu’anha ajma’in.
Tulisan ini saya ketik ulang dari sebuah Buku : Surat Cinta Untuk Sang Aktivis. (Musafir Hayat )

Share/Bookmark

Apakah Kamu Menyadarinya?! [Do You Realize That?]

     "Kita dilahirkan dengan dua mata di bagian muka, karenanya kita tidak boleh selalu menatap ke belakang, tetapi seharusnya memandang apa-apa yang ada di hadapan kita, bahkan memandang jauh ke muka.
     Kita dilahirkan memiliki dua daun telingan : kiri dan kanan, seharusnya kita mendengar persoalan dari dua belah pihak, seharusnya kita bersedia menerima pujian dan celaan, lalu menetapkan mana yang benar dari keduanya.
     Kita dilahirkan dengan otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak. Meski tampak sangat miskin, tapi sesungguhnya kita kaya karena tidak seorangpun dapat mencuri isi otak kita.
     Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, tapi satu mulut. Mulut bisa menjadi senjata yang tajam, ia dapat melukai, dapat mencumbu dan dapat membunuh. Karenanya, sedikitkan berbicara, banyakkan mendengar dan melihat.
     Kita lahir dengan hanya satu jantung hati, terletak jauh di bawah tulang rusuk. Ini mengingatkan agar kita menghargai dan memberikan cinta dari lubuk hati yang dalam. Belajarlah untuk mencintai dan dicintai, tapi janganlah kau berharap orang-orang akan mencintaimu seperti, atau sebanyak cintamu kepada mereka. Berikan cintamu tanpa mengharapkan balasan niscaya kau dapati cinta menjadi lebih indah." (Author unknown)

INGATLAH..

Ingatlah, bukan tugasmu untuk mengusahakan agar orang mencintaimu, tapi tugasmu adalah mencintai orang.
Percayalah pada keajaiban, tapi jangan selalu bergantung padanya.
Apa yang kau lakukan hari ini membuatmu lebih dekat ke tempat yang kau inginkan esok.
Jangan lupa, kita kelak akan dinilai berdasarkan apa yang kita berikan, bukan apa yang kita terima.
Ingatlah, kata-kata yang penuh kasih cepat menyembuhkan.
Siaplah untuk menerima ketidaknyamanan sementara untuk mendapatkan kebaikan selamanya.
Bila kau dengar ucapan ramah tentang seorang teman, ucapkan demikian juga kepadanya.

(sekumpulan kata bijak, yang terkadang perlu untuk dibaca ulang.)
NB : tetep, dahulukan mengulang Al-Quran than the others yah :) 


Share/Bookmark

Wednesday, March 02, 2011

Mesra Ala Rasulullah

"..sebelumnya, dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf, jika tulisan ini sebenar-benarnya saya kutip dari salah satu majalah bulanan saya ALIA Pesona Muslimah Edisi Oktober 2010 No. 04 Tahun VII Syawal - Zulqoidah 1431, sama sekali bukan dengan niat mengkomersilkan, tetapi ingin berbagi.. Semoga bermanfaat, dan saya yakin ini sangat bermanfaat. Selamat membaca."  
     

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantara kamu kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Q.S Ar-Rum:21)
     Rasa kasih dan sayang yang diberikan Allah Subhanallahu wa Ta'ala kepada sepasang suami istri, bagaikan pohon yang memerlukan siraman air dan pupuk agar senantiasa tumbuh sehat sehingga dapat memberi manfaat. Tidak layu. Pupuk dan air bagi pohon cinta itu adalah isyarat-isyarat kemesraan, yang dilaksanakan sepenuh hati dan dengan sabar.
     Guru kemesraan suami istri adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau suami paling romantis, teladanbagi kita yang ingin meraih cinta sejati. Meraih kebahagiaan akhirat dan kebahagiaan dunia. Berikut beberapa keistimewaan kemesraan yang pernah beliau tunjukkan kepada keluarga kita, dan bisa kita teladani.
Senang Memberi :
- Penampilan terbaik di hadapan pasangan
- Memberi hadiah
- Air muka yang menyenangkan
Display of Affection
- Minum dari tempat yang sama
- Bekas gigitan istri
- Menghadiri jamuan berdua
- Tidur bersama setelah jima'
- Memeluk istri
- Tidur dalam satu selimut
- Mandi bersama
- Panggilan mesra
- Wudhu bersama
Bermanja dan Memanjakan
- Mengeramasi dan menyisiri rambut suami
- Membelai istri
- Duduk di pangkuan istri
- Tidur berbantalkan pangkuan istri
- Istri bersandar di bahu suami
Menghormati Pendapat Keinginan Suami/Istri
- Minta pendapat istri mengenai pakaian
- Menghidangkan makanan kesukaan
Saling Memuliakan dan Melayani
- Istri menyediakan air dan mentabiri suaminya mandi
- Istri menyiapkan siwak
- Mengambilkan minum untuk istri
Saling Menghibur
- Menghibur hati suami yang gundah
- Menghibur istri yang sedang menangis
Menyediakan Waktu Khusus
- Waktu untuk keluarga
- Melihat pertunjukan bersama
- Melayani istri bersenda gurau
- Berlomba untuk kebaikan
Selalu Berlaku Baik
- Memegang/menggenggam tangan istri saat sedang membicarakan hal penting
- Mengingatkan untuk kebaikan
- Istri tidak menjauhi suami bila marah
- Membonceng dan meminta maaf pada istri
- Segera menemui istri bila tergoda yang lain
- Shalat di sebelah istri yang tertidur
- Tidak kasar atau menghina
- Tidak membangunkan istri bila pulang larut malam
Saling Membantu
- Membersihkan tetesan darah haid istri
- Membersihkan mani dari kain suami
- Meringankan beban kerja istri

Islam mengibaratkan perkawinan sebagai benih tanaman. Diala benih utama terwujudnya kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Bila baik hubungan perkawinan, baiklah keluarganya, baiklah masyarakatnya. Salah satu kuncinya adalah kemesraan yang dibangun di antara suami dan istri, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam.
     saudaraku seiman, teladanilah beliau.. karena setiap wanita muslimah bermimpi untuk memiliki suami.. seperti beliau. wallahualam bishowwab..



Share/Bookmark

Sunday, February 27, 2011

Resep Pembasmi Stres [Stress Busters]

Berdoa!
Tidur pada waktunya.
Bangun tepat waktu sehingga kau dapat memulai harimu dengan tidak terburu-buru.
Katakan "tidak" pada proyek yang tidak cocok dengan perencanaan waktumu (time schedule) mu, atau yang dapat membahayakan kesehatanmu.
Delegasikan tugas kepada orang lain yang mampu. 
Sederhanakan dan jangan kacaukan hidupmu.
Yang kurang terkadang terasa lebih. (Meski "satu" itu sering kali tidak cukup, tapi dua terkadang terlalu banyak)
Luangkan waktu untuk melakukan berbagai hal (read : tidak termasuk yang terlarang) dan pergilah ke berbagai tempat lain.
Atur langkahmu. Rencanakan perubahan besar dan rencanakan kerja lembur untuk proyek yang rumit. Jangan himpun seluruh pekerjaan berat sekaligus.
Lalui satu hari setiap harinya.
Hiduplah menurut anggaran, jangan gunakan kartu kredit untuk pembelian biasa (sehari-hari).
Sediakan berbagai cadangan : cadangan kunci kendaraan (pada teks asli tertulis "cadangan kunci mobil) di dompetmu, cadangan kunci rumah yang kau kubur di kebunmu, cadangan prangko, dll.
J M (Jaga Mulut) kalimat pendek ini dapat melindungimu dari kesulitan panjang.
Lakukan olah raga yang cukup.
Makanlah dengan benar.
Rapikan barang-barang sehingga semua terletak pada tempatnya.
Ketika mengendarai kendaraan (pada teks asli tertulis "Ketika mengendarai mobil") dengarkanlah musik yang dapat membantu memperbaiki kualitas hidupmu.
Buatlah catatan untuk gagasan dan inspirasi yang muncul di benakmu.
Luangkan waktu setiap hari untuk menyendiri.
Ada masalah? Bicarakan langsung dengan Tuhan di tempat itu juga. Jangan tunggu sampai datang waktu tidur untuk berdoa.
Bersahabatlah dengan orang-orang saleh.
Simpanlah ayat-ayat suci kesukaanmu yang setiap saat dapat kau baca.
Tertawalah!
Tertawalah lagi!
Kembangkan sikap pemaaf, kebanyakan orang telah berusaha sebaik mungkin.
Berbaikhatilah terhadap orang jahat (mereka mungkin memerlukan sikap itu).
Kurangilah bicara, perbanyaklah mendengar.
Kurangi kecepatan gerakanmu.
Ingatkan dirimu, bahwa kau bukan General Manager jagad raya ini.
Setiap malam sebelum tidur, renungkanlah satu nikmat yang belum pernah kau syukuri.
(Author Unknown)

Share/Bookmark

Tuesday, November 09, 2010

"The 4 Wives in Our Lives"

Alhamdulillah.. you can also read this story in this link Story of The 4 Wives.
Seorang pedagang kaya memiliki 4 orang istri. Istri ke-4 adalah yang paling dicintainya. Ia memberinya berbagai perhiasan yang mahal dan memperlakukannya dengan lemah lembut. Ia merawatnya dan tidak memberinya sesuatu kecuali yang terbaik.




Ia juga sangat mencintai istrinya yang ke-3, merasa bangga padanya, dan selalu memamerkannya kepada teman-temannya. Meskipun demikian, si pedagang selalu merasa khawatir kalau sewaktu-waktu ia lari dengan pria lain. 


Ia juga mencintai istrinya yang ke-2, karena ia penuh perhatian, berwatak sabar, dan merupakan orang kepercayaannya. Kapan pun ia menghadapi persoalan, istrinya ini selalu menolongnya, dan begitu pula ketika ia meghadapi masa-masa sulit.


Adapun istri pertamanya, ia sangat setia, dan telah berjasa dalam mengurus kekayaan, bisnis dan rumah tangganya. Meskipun demikian, si pedagang tidak mencintai istri pertamanya ini, walaupun sang istri sangat mencintainya, ia hampir tidak pernah memperhatikan.


Suatu hari, si pedagang jatuh sakit dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia mengenang kehidupannya yang mewah selama ini lalu berkata kepada dirinya sendiri, "Aku mempunyai 4 orang istri, tapi sewaktu mati nanti, aku akan sendiri. Alangkah kesepiannya aku nanti!"


Ia kemudian bertanya kepada istrinya yang ke-4, "Kau paling kucintai. Aku telah memberimu berbagai pakaian yang baik, dan mencurahkan banyak perhatian kepadamu. Sekarang ajalku sudah dekat, maukah kau nanti mengikutiku dan menemaniku di kubur?"


"Sama sekali tidak!" jawab istri keempatnya sambil berjalan meninggalkannya.


Jawaban itu sangat menyakitkan, seakan pisau tajam menghujam tepat di jantungnya.


Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada istrinya yang ketiga, "Selama hidupku aku sangat mencintaimu. Sekarang ajalku telah dekat, maukah kau nanti mengikutiku dan menemaniku di kubur?"


"Tidak!" jawabnya. "Kehidupan di sini sangat indah. Aku akan kawin lagi bila kau telah tiada."


Sang pedagang merasa sangat sedih.


Ia kemudian bertanya kepada istrinya yang kedua,"Aku selalu memohon pertolonganmu dan kau selalu membantuku. Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Bila aku mati nanti, maukah kau mengikutiku dan menemaniku di kubur?"


"Maafkan aku, aku tidak dapat menolongmu kali ini," jawabnya. "Paling-paling aku hanya bisa mengantarmu sampai ke kubur."


Jawaban itu datang bagaikan halilintar. Si pedagang seakan binasa. Tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan berangkat bersamamu, aku akan mengikutimu kemana pun kau pergi."


Si pedagang mendongakkan kepalanya dan melihat istri pertamanya. Tubuhnya kurus kering, seakan kekurangan gizi. Dengan penuh penyesalan ia berkata, "Seharusnya aku dahulu lebih memperhatikanmu."


Ketahuilah, sebenarnya kita semua mempunyai 4 istri dalam kehidupan ini.
Istri keempat adalah tubuh kita. Berapapun banyak waktu dan usaha untuk membuatnya cantik, ia tetap akan meninggalkan kita bila kita telah mati.


Istri ketiga adalah kekayaan dan status kita. Bila kita meninggal, semuanya akan menjadi milik orang lain.


Istri kedua adalah keluarga dan teman. Seberapapun dekatnya mereka dengan kita, mereka paling jauh hanya bisa mengantarkan kita ke kubur.


Istri pertama adalah jiwa kita. Sering kali kita tidak memperdulikannya sewaktu kita mencari kekayaan dan memperturutkan kesenangan hawa nafsu. Padahal dialah nanti yang akan mengikuti kemana pun kita pergi.


Mungkin adalah gagasan yang baik untuk memelihara dan menguatkan jiwa kita sejak saat ini juga daripada kita kelak menyesal di atas pembaringan kematian. (Author Unknown)
Share/Bookmark