Showing posts with label BACA-LAH. Show all posts
Showing posts with label BACA-LAH. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

Karakter Nafsu di dalam Pesta Perkawinan

Karakter Nafsu di dalam Pesta Perkawinan (Astaghfirulloh..)

Saat pertama menerima undangan maka sombong, dengki, dan merasa lebih utama, mendorong kita untuk bergibah tentang tokoh dalam undangan: dalam bentuk obrolan keluarga, telepon, layaknya infotainment.

Pada saat hari H, maka yang terbersit dalam diri adalah harus tampil dengan baju terbaik, kendaraan terbaik, parfum terbaik, aksesoris terbaik, dimana ini tidak lain adalah karakter dari si riyaa’ yang mendorong melakukan sesuatu bukan karena Allah.

Saat melihat ruangan yang megah, si dengki keluar, karakter dengki seperti kata Aa’ Gym adalah senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Hati menjadi keruh.

Saat melihat hidangan terhampar, si tamak dan si syahwat mulai keluar, nanti kamu harus makan ini, itu, ini itu, dengan jumlah segini segitu.


Saat melihat wanita yang mengumbar aurat, si syahwat mulai membuai dan menggelora. Hati sudah mulai kotor, dan kadang imajinasi lebih berani lagi. astaghfirullah.

Tampak luar tidak ada satupun syariat yang dilanggar, di dalam, hati sudah ibarat septic tank.

Si sombong, si lebih utama, si dengki tidak mau kalah mengomentari pengantin, tamu, hidangan, acara dan lain-lain. ..jelek amat yang cowoknya, jelek amat ya ceweknya, ngga mecing banget sih dandanannya, makanannya dikit amat, gak berkualitas, acaranya bosenin, bla..bla..bla.

Saat sebagian tamu sudah dipersilahkan menyalami mempelai sebagian tamu antri, dan sebagian lagi sudah menyerbu hidangan. Si riyaa’ yang terbungkus dalam kemasan jaim melarang saya untuk mendekati hidangan, ingat kamu harus jaga imej, jangan kaya orang kelaparan! Jadi saya tidak menyerbu hidangan karena imej bukan karena mengekang diri dari tamak dan syahwat.

Saat antri salaman ada orang nyrobot antrian, si marah mulai terusik, mulai memaki dalam diri, ini orang kampung banget sih, baju bagus kelakuan kampung banget. Apalagi kalau antrian dihentikan karena ada pejabat hampir semua nafsu amarah keluar: ini nih yang bikin rusak negara, kaya apa sih tampangnya, hmmm…dekil, pendek, gendut perutnya, banyak makan uang rakyat sih.

Saat antri makanan terutama kambing guling demikian juga, melihat orangtua mengambil makanan banyak si dengki, si marah, si sombong mulai memaki, ini orangtua mau mati aja pake banyak makan, stroke baru rasa loe……astaghfirullah

Demikianlah karakter nafsu amarah dirasakan dalam suatu undangan perkawinan. Ini baru undangan perkawinan, dimana dari menerima undangan sampai pulang tidak ada pelanggaran fiqih yang biasa kita sebut sebagai kemaksiatan, namun dilihat dari hakikatnya maka kemaksiatan hati tersebut juga akan diperhitungkan oleh Allah.

Astaghfirullah.....

Copy and paste from : http://met-pagi.blogspot.com/
Share/Bookmark

Friday, November 05, 2010

"About My Big Question : Ruqyah or Sihir ?"

Assalamualaykum Warrahmatullah Wabarakatuh..
Akhirnya, saya menemukan jawaban meskipun just a simple answer, tapi ini cukup memberikan pencerahan. Pertanyaan ini selalu muncul dengan tinta hitam, bold, di kepala saya. Lumrah banget di masyarakat muslim. Wow, apa jadinya kampung muslim kita, kalau membedakan pengobatan yang halal dan haram saja tidak  begitu mengerti. Jatuhnya syirik toh.. Itu adalah dosa yang sangat besar dan sangat besar. Na'udzubillah..

(Saya kutip dari Tafsir Al-'Usyr Al-Akhir dari Al-Quran Al Karim )
Ada beberapa tanda atau indikasi bahwa seseorang yang meruqyah itu menggunaka ilmu sihir, bukan menggunakan Al-Quran. Jadi jangan sampai terpedaya oleh penampilan yang berkedok keagamaan. Terkadang ia memulai meruqyah dengan membaca Al-Quran, namun tidak lama kemudian ia merubah bacaan itu. Terkadang orang yang meruqyah dengan sihir itu terlihat rajin ke mesjid sebagai upaya untuk memperdaya orang lain, atau terlihat di hadapan seperti banyak membaca dzikir, maka jangan sampai terpedaya, waspadalah!

Beberapa tanda tukang sihir atau dukun :


  • Bertanya kepada si sakit tentang namanya atau nama ibunya. Padahal mengetahui atau tidak nama tersebut, sama sekali tidak berpengaruh apa-apa pada pengobatan.
  • Meminta sesuatu kepada si sakit, seperti baju atau kaos.
  • Terkadang meminta kepada si sakit berupa binatang dengan ciri-ciri tertentu untuk disembelih dan dipersembahkan kepada jin, atau terkadang mengoleskan darah dari binatang sembelihan tersebut kepada si sakit.
  • Penulisan dan bacaan mantera-mantera yang tidak bisa dipahami dan tidak mengandung makna.
  • Memberikan kepada si sakit kertas yang berisi kotak-kotak di dalamnya tertulis huruf-huruf dan angka-angka yang disebut hijab.
  • Menyuruh si sakit untuk mengasingkan diri beberapa waktu di dalam kamar yang gelap, hal ini dinamakan semedi.
  • Menyuruh si sakit untuk tidak menyentuh air beberapa waktu tertentu.
  • Memberikan sesuatu kepada si sakit agar menguburkannya di dalam tanah.
  • Memberikan kertas kepada si sakit agar ia membakarnya dan menebarkan asapnya pada tubuhnya.
  • Memberitahu si sakit tentang beberapa hal yang menyangkut pribadinya yang tidak diketahui oleh siapapun, atau namanya, atau tempat asalnya, atau penyakitnya sebelum ia berbicara.
  • Dapat mendeteksi keadaan si sakit saat ia masuk kepadanya, atau melalui telepon atau via sms.


Share/Bookmark