Showing posts with label WALIMAH. Show all posts
Showing posts with label WALIMAH. Show all posts

Wednesday, March 16, 2011

Nasehat Ibu Kepada Calon Ibu

Wahai Allah, segala puji-pujian yang hanya pantas untuk-Mu
Wahai Zat tempat bergantung seluruh makhluk


     Seorang ibu menasehati putrinya sambil menangis dan tersenyum :
"Wahai putriku, engkau telah menghadapi hidup baru. Hidup yang Bapak dan Ibumu tidak mendapat tempat, begitu juga salah satu dari saudaramu. Dalam dunia itu engkau akan menjadi teman setia bagi suamimu. Suamimu tidak akan rela ada orang lain yang ikut campur dalam urusanmu dan suamimu, walau mereka yang masih memiliki hubungan darah denganmu. Jadilah engkau istri dan ibu baginya. Jadikan dia merasa bahwa engkau adalah segala-galanya dalam hidup dan dunianya. Ingatlah bahwa seorang laki-laki adalah "bocah besar" yang sedikit saja kalimat manja akan membahagiakannya. Jangan engkau membuat dia merasa bahwa pernikahannya denganmu menjadikan kamu terpisah dari keluarga dan orangtuamu. Perasaan seperti ini juga dirasakan olehnya. Dia telah meninggalkan rumah kedua orangtuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara kamu dan dia adalah perbedaan antara laki-laki dan wanita. Seorang wanita selalu merindukan keluarga dan rumah dimana dia dilahirkan, tumbuh dan belajar di dalamnya. Tetapi dia harus membiasakan dirinya untuk hidup dalam suasana baru. Dia harus membiasakan diri dengan seorang laki-laki yang telah menjadi suami, pelindung dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru!"
     "Wahai putriku, inilah kehidupan masa kini dan masa depanmu. Inilah keluargamu yang kalian bangun berdua. Aku tidak akan menuntut kamu melupakan Ibu, Ayah dan Saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu, wahai putri kesayanganku. Lagi pula, bagaimana seorang ibu melupakan buah hatinya? Akan tetapi aku minta kepadamu, cintailah suamimu, hidup dan bahagialah bersamanya."
     Belajar bersabar dari wanita yang bernama Asiyah (istri fir'aun), setia dari Khadijah (istri Rasulullah sallallahu 'alaihi wassallam yang pertama), jujur dari Aisyah (istri Rasulullah yang paling muda umurnya), dan teguh hati dari Fatimah (putri Rasulullah).
[Satu dari sekian banyak lembar-lembar favoritku di dalam Buku Menjadi Wanita Paling Bahagia-DR. Aidh al-Qarni]
     Kepada yang terhormat :
Calon Suami ku..
Sebelum engkau ambil aku dari kedua orangtuaku
Ketahuilah bahwa aku hanyalah perempuan kecil yang dulu belajar berdiri dalam genggaman ibuku
Ketahuilah bahwa aku hanyalah perempuan kecil yang dulu belajar berjalan dalam rangkulan ayahku
Ketahuilah bahwa aku hanyalah perempuan kecil yang dulu selalu belajar segala hal besar dalam hidupku dari keluarga kecilku.
     Aku mengerti, sudah saatnya padamu aku mengabdi.
Memanjakanmu dengan berbagai menu yang kamu tau, ibuku lah yang mengajariku.
Memanjakanmu dengan belaian kasih sayang, dan kelembutan yang kamu tau bahwa aku mempelajarinya dari cara ibu membelaiku.
Memanjakanmu dengan tatapan dan tunduk bukan sendu, tatapan yang hangat memancarkan rindu, tatapan itu seperti milik ibu ketika menina bobok-kan aku saat usiaku masih tujuh tahun, dulu.
     Ketahuilah sayang, duhai calon suami ku, 
Berterimakasihlah pada ibuku, karena beliau sudah merelakanku untuk mu.
Kamu tau sayang, itu hal yang sangat berat baginya.
Tetapi beliau jugalah yang paling mengerti duhai kekasihku, bahwa engkaulah pria yang mencintaiku sepenuh hatimu.
Aku hanya meminta, jangan engkau curiga padaku, karena ayah, ibu, dan kamu masing-masing memiliki ruang terpenting dalam hidupku.
dan..kau takkan mengerti betapa perempuan selalu ingin dimanja ketika dia kecil, remaja, bahkan ketika telah dewasa sekalipun.
Jangan khawatir sayangku, aku tak banyak permintaan untuk hal yang satu ini.
Aku hanya meminta doa-doa tulus dari dua bibir indahmu.
Karena "MEMILIKI CINTA MESKI SEBATAS DOA", adalah hal penting dalam hidupku.
     Aku adalah seorang perempuan, yang kelak akan memiliki dua ibu dalam hatiku.
Biarkan aku berekspresi dalam sela-sela senyum ku duhai lelaki gagah!
Perempuan yang Allah pilihkan untukmu adalah perempuan yang tidak lebih hebat dari perempuan yang melahirkanmu, namun aku adalah perempuan yang insyaallah akan melahirkan anak-anak hebat kita.
     ".....dedicated to seorang laki-laki biasa atau seorang ikhwan biasa yang telah dianugrahkan oleh Alloh dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan Alhamdulillah telah terlahir dalam keadaan seorang muslim......"
Share/Bookmark

Wednesday, March 02, 2011

Mesra Ala Rasulullah

"..sebelumnya, dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf, jika tulisan ini sebenar-benarnya saya kutip dari salah satu majalah bulanan saya ALIA Pesona Muslimah Edisi Oktober 2010 No. 04 Tahun VII Syawal - Zulqoidah 1431, sama sekali bukan dengan niat mengkomersilkan, tetapi ingin berbagi.. Semoga bermanfaat, dan saya yakin ini sangat bermanfaat. Selamat membaca."  
     

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantara kamu kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Q.S Ar-Rum:21)
     Rasa kasih dan sayang yang diberikan Allah Subhanallahu wa Ta'ala kepada sepasang suami istri, bagaikan pohon yang memerlukan siraman air dan pupuk agar senantiasa tumbuh sehat sehingga dapat memberi manfaat. Tidak layu. Pupuk dan air bagi pohon cinta itu adalah isyarat-isyarat kemesraan, yang dilaksanakan sepenuh hati dan dengan sabar.
     Guru kemesraan suami istri adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau suami paling romantis, teladanbagi kita yang ingin meraih cinta sejati. Meraih kebahagiaan akhirat dan kebahagiaan dunia. Berikut beberapa keistimewaan kemesraan yang pernah beliau tunjukkan kepada keluarga kita, dan bisa kita teladani.
Senang Memberi :
- Penampilan terbaik di hadapan pasangan
- Memberi hadiah
- Air muka yang menyenangkan
Display of Affection
- Minum dari tempat yang sama
- Bekas gigitan istri
- Menghadiri jamuan berdua
- Tidur bersama setelah jima'
- Memeluk istri
- Tidur dalam satu selimut
- Mandi bersama
- Panggilan mesra
- Wudhu bersama
Bermanja dan Memanjakan
- Mengeramasi dan menyisiri rambut suami
- Membelai istri
- Duduk di pangkuan istri
- Tidur berbantalkan pangkuan istri
- Istri bersandar di bahu suami
Menghormati Pendapat Keinginan Suami/Istri
- Minta pendapat istri mengenai pakaian
- Menghidangkan makanan kesukaan
Saling Memuliakan dan Melayani
- Istri menyediakan air dan mentabiri suaminya mandi
- Istri menyiapkan siwak
- Mengambilkan minum untuk istri
Saling Menghibur
- Menghibur hati suami yang gundah
- Menghibur istri yang sedang menangis
Menyediakan Waktu Khusus
- Waktu untuk keluarga
- Melihat pertunjukan bersama
- Melayani istri bersenda gurau
- Berlomba untuk kebaikan
Selalu Berlaku Baik
- Memegang/menggenggam tangan istri saat sedang membicarakan hal penting
- Mengingatkan untuk kebaikan
- Istri tidak menjauhi suami bila marah
- Membonceng dan meminta maaf pada istri
- Segera menemui istri bila tergoda yang lain
- Shalat di sebelah istri yang tertidur
- Tidak kasar atau menghina
- Tidak membangunkan istri bila pulang larut malam
Saling Membantu
- Membersihkan tetesan darah haid istri
- Membersihkan mani dari kain suami
- Meringankan beban kerja istri

Islam mengibaratkan perkawinan sebagai benih tanaman. Diala benih utama terwujudnya kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Bila baik hubungan perkawinan, baiklah keluarganya, baiklah masyarakatnya. Salah satu kuncinya adalah kemesraan yang dibangun di antara suami dan istri, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam.
     saudaraku seiman, teladanilah beliau.. karena setiap wanita muslimah bermimpi untuk memiliki suami.. seperti beliau. wallahualam bishowwab..



Share/Bookmark

Saturday, December 11, 2010

Posting Muslim Marriage : Mandiri setelah Menikah

Posting ini sebelumnya merupakan satu dari sekian banyak pembahasan penting di account facebook saya. Masih mencari dan terus bertanya dari berbagai sumber. Semoga ini sedikit memberikan pencerahan bagi kamu yang akan menikah dan telah menikah. 


Shared from istri solehah : "Menikahlah.. Maka engkau akan tahu betapa indahnya sebuah hubungan yang berlandaskan sebuah ikatan yang syah.. Tiada lagi hijab diantaramu.. yang ada adalah kesetiaan dan kemandirian.. Engkau akan terlepas dari ayah dan ibumu dan melewati sisa hidupmu bersama dia yg telah kau pilih.. melewati segala problematika kehidupan bersama. dlam suka maupun duka.."


Diskusi ringan antara saya (A) dan sahabat saya Sri Fitrianing Pratiwi (B)


A : ‎"Engkau akan terlepas dari ayah dan ibumu dan melewati sisa hidupmu bersama dia yg telah kau pilih.. melewati segala problematika kehidupan bersama. dlam suka maupun duka..". Ada yang bisa bantu saya, menerjemahkan maksud dari kalimat di atas teman-teman ku? :)

B : Di dalam Islam, seorang wanita adalah tanggung jawab orang tua nya, seorang ibu adalah tanggung jawab anak lelakinya, seorang saudara perempuan adalah tanggung jawab saudara lelakinya. Namun, ketika sudah menikah, seorang wanita adalah tanggung jawab suaminya. Ia telah terlepas dari tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka, senang dan susahnya adalah tergantung oleh suaminya, dan seorang wanita yang telah menikah harus taat pada suaminya (selama berada dalam ketentuan Allah,jika perintah suami melanggar ketentuan Allah, seorang istri tidak wajib patuh). Ketika wanita menguunakan uang suaminya ia harus meminta izin, ketika ia hendak bepergian hendaklah meminta izin suaminya terlebih dahulu....dsb...


Oleh karena nya, hendaklah memilih pasangan yang mempunyai pemahaman agama baik dan dapat menjadi imam dalam sholat dan dalam kehidupan. InsyaAllah seorang yang baik pemahaman agama dan baik ibadahnya, ketika ia sedang tidak menyukai istrinya ia tidak akan menyakitinya, dan ketika ia sedang sangat menyukai istrinya maka ia akan memperlakukannya seperti layaknya ratu. Suami adalah seorang nakhoda, keluarganya adalah kapalnya, ketika nakhoda tak pandai mengendalikan kapalnya, maka alamat akan karamlah kapal itu...
"Selamat berlayar, bagi yang sudah berada diatas kapal, bagi yang belum, pilihlah nakhoda yang handal dan terpercaya, insyaAllah, kapal akan selamat sampai tujuan"


A : nice sri... pertanyaan ku selanjutnya.. jika pasangan yang telah menikah, namun tetap menyusahkan kedua orang tuanya, apakah benar (aku pernah baca) si suami akan menanggung dosa...? Karena yang bertanggung jawab terhadap istri dan keluarga (nafkah) sesungguhnya adalah suami...bukan orang tua lagi?

B : Pada dasarnya yang menafkahi kehidupan setelah berumahtangga itu suami.Oleh karenanya dalam pembagian sistem warisan di dalam Islam lelaki mendapat porsi lebih besar, karena nantinya ia yang akan menanggung hidup wanita (subhanallah,,,memang segala ketentuan Allah itu ada hikmahnya). Namun pada prakteknya saat ini kenapa istri akhirnya juga ikut bekerja? Bersusahpayah sampai bersikut-sikutan dengan kaum pria demi mencari nafkah?

Zaman memang sudah berubah,,dunia saat ini tidak seluarbiasa di zaman Rasulullah, mungkin,,,saat ini kepedulian terhadap wanita sudah semakin berkurang. Sehingga meskipun sang wanita mempunyai saudara lelaki ataupun bahkan suami, namun tanggung jawab mereka terhadap wanita semakin menipis. Namun saya tidak berpandangan miring terhadap wanita yg bekerja. Saya juga bekerja. Alasannya, pertama untuk mengaplikasikan ilmu (meski sebenarnya tidak dengan harus bekerja), mengaktualisasikan diri (hampir sama dg yg pertama), yang paling utama sebenarnya adalah ingin menjadi wanita yang mandiri dari segi ekonomi. Dalam diri wanita saat ini, ada kekhawatiran akan kehidupan masa depannya jika harus bergantung saja secara ekonomi dengan pria, meskipun misalnya ia sudah bersuami atau punya saudara pria. Zaman sekarang, wanita harus berjuang sendiri jika ingin hidup berkecukupan, ia tidak bisa lagi bergantung secara total pada saudara lelakinya atau suaminya, atau anak lelakinya meskipun sebenarnnya di dalam Islam wanita adalah tanggung jawab mereka. Sebenarnya hal ini sangat menyedihkan jika kita mau merenungkan...
Artinya, kesadaran kita terhdap tanggung jawab kita dan pemahaman kita terhadap agama Islam semakin minim...


Di lain sisi, perang pemikiran semisal penyetarann gender, feminisme dsb...sedikit banyak mempengaruhi pemikiran kaum wanita, wa bil khusus muslimah....Andaikan zaman di saat seperti ketika Rasulullah masih hidup...dimana muslimah tidak perlu merisaukan kehidupannya,apa yang akan dia makan besok, bagaiman nasi anak-anaknya...ah...tapi masa itu tidak akan mungkin kembali...:(


B : itu penjelasan pengantarnya uli...
Menyusahkan disini maksudnya seperti apa?
Apakah maksudnya masih bergantung secara ekonomi?
Pada dasarnya kalau orang tua kita ridho dalam membantu, tidak menjadi masalah...(itu mungkin bentuk kasih sayang mer
eka, meskipun sebenarnya bukan tanggung jawab mereka lagi). Namun kalau kita sampai memaksa org tua yang berakibat org tua kesulitan dan sampai terlibat utang gara-gara kita atau sampai kehidupan mereka terlantar kita dan mereka tidak ridho terhadap kondisi itu. Sri kira kita memang berdosa.
tapi siapa yang berdosa? Apakah suami saja? Karena dia kepala rumahtangga?
Ini perlu kita cermati lagi.
Ingat setiap diri menanggung dosanya masing-masing. Dosa orang lain bukan kita yang menanggung dan sebaliknya. pertanggung jawabanpun masing-masing di akhirat. Menurut sri prinsipnya gini, jika sang suami dengan sengaja dan sadar melalaikan atau bahkan tidak sama sekali menjalankan tanggung jawabnya sbg suami dan kepala rumahtangga, sehingga berakibat istri dan anaknya terlantar, atau bahkan sampai menyulitkan kehidupan org tuanya, tentu saja dia berdosa, karena tidak bertanggung jawab. Apakah istri terlepas dari dosa, karena suami telah menanggung dosa? Belum tentu, jika istri ikut terlibat disana, misalnya ikut mempengaruhi suami untuk menyulitkan kehidupan org tua atau istri tidak pandai mengatur keuangan, dengan kebiasaannya berfoya-foya sehingga memaksa suami mencari penghasilan di jalan yang salah dan menghasilkan uang haram, maka sang istri seperti ini juga bersalah.
Lain halnya jika suami telah berusaha maksimal, namun belum juga mampu memenuhi kebutuhan keluarga sehingga mengakibatkan ia terpaksa harus bergantung secara ekonomi dengan orgtua, namun org tua nya pun ridho dan sang suami tetap bertekad untuk berusaha tidak bergantung lagi dg org tua, sri kira ini tidak masalah. Justru ini ladang pahala bagi org tua ^^
pssst...Sri kasi tau ya...sebenarnya uang penghasilan istri itu bukan hak suami dan suami tidak berhak mengambil uang penghasilan istrinya. Namun jika sang istri mau memberikan uang penghasilannya untuk membantu suami menafkahi keluarga, itu adalah "sedekah" istri pada suami..dan itu pahala....^^
Bukankah yang paling pertama berhak mendapat sedekah kita adalah saudara/orang terdekat? ^^
subhanallah...Maha Suci Allah..


A : trimakasi ya sayang.. seketika aku cuma bisa nundukin kepala.. niat ku semakin bulat sri.. semakin ingin mandiri.. tidak menyusahkan kedua orang tua ku lagi.. dan sekiranya aku pun juga bekerja, apa yang ku cari adalah infak ku untuk keluarga ku..itu pun insyaallah seizin suami ku kelak.. dan, perkerjaan ku juga insyaallah semakin mendekatkan ku pada kebaikan dan Rabb ku..

B : ya uli...
Kalau dunia saat ini sesempurna yang kita inginkan, tentu saja wanita manapun (yang normal) inginnya di rumah saja bersama buah hatinya, mendidiknya, mengamati setiap detik tingkah polah lucu sang belahan jiwa, mengamati perkembangan pesat si kecil, melayani suami , menyiapkan makanan buat keluarga, merawat diri dan kecantikan untuk suami, menjadikan rumahnya layaknya syurga...tidak perlu merasakn teriknya panas...peluh keringat, debu yang menyesakkan, bersikutan dengan kaum adam demi mencari sesuap nasi..bahkan kaum wanita dalam bekerja..sering mendapat perlakuan melecehkan...sedih rasanya...
namun dunia saat ini kiranya tidak memungkinkan untuk wanita bermimpi seperti itu ...Tapi Allah pun tau permasalahan kita, Ia tidak melarang wanita untuk mencari ilmu, beribadah di mesjid, atau pun bekerja...
Namun hendaknya adab-adabnya tetap dijaga, pilihlah pekerjaan yang tetap menjaga izzah (harga diri) wanita, tidak berbahaya dan mengancam keselamatan wanita, tidak membunuh sisi-sisi feminitas wanita, tidak membuat sang wanita lalai dalam kewajiban utamanya pada Allah dan keluarga...
Semoga pekerjaan kita...menjadi ladang pahala bagi kita...^^bismillah...


A : iya sri... aku juga pernah baca dari beberapa buah buku mengenai rezeki dari istri / uang nafkah dari istri itu bernilai sedekah atau infak.. 

Intinya.. aku punya pandangan bahwa ketika aku nikah nanti, maka tanggung jawab atas ku adalah sua
mi ku.. termasuk dari sisi ekonomi, dan aku ingin.. aku bisa hidup tanpa bergantung/menyusahkan siapapun kecuali suka duka antara aku dan suami ku.. semoga apa yang ada di benakku tidak pada jalan atau pemikiran yang salah.. insyallah .. aku selalu ingin bertukar pikiran dengan mu sayang.. semoga pahala yang berlipat ganda tercurah untuk mu dan keluarga mu ya... amin


B : Iya...sama2 uli...semoga Allah menggenapkan impian kita ya...^^
"Bermimpilah, berikhtiar lalu sempurnakanlah dengan doa dan tawakkal...insyaAllah, Allah akan menggenapkan mimpi2mu..."

A : Amin...
insyaallah :)

Pertanyaan yang sama, Saya (A) tujukan kepada salah satu Guru saya Bpk. Egi Bismo Subiakto by message : 
A : Ayah.. bersediakah ayah menjelaskan post di atas menjadi lebih gamblang, dengan point kemandirian, dan apakah yang sebenarnya yang dimaksud dgn "terlepas dari ayah dan ibu mu" setelah menikah itu ? Terimakasih ayah.. mohon bimbingannya..

B : Aslm, 
Ulie, maaf baru jawab ya..

Jika melihat tulisan tsb, terutama ttg point kemandirian, dapat di artikan, bhw seorang wanita jika sudah menikah,maka dpt di ibaratkan sudah pindah kapal. Artinya, sudah tidak di kapal kedua orangtua nya, sudah punya kapal sendiri dg nahkoda nya Suami yg sekaligus menjadi Imam nya. Pengabdian istri sudah kepada Suami (selain Allah). bersama suami menata kapal tsb. Orangtua tidak ikut campur di dalam kapal tsb. Namun hubungan antara anak dg orangtua tetap ada, dan hrs dijaga. Demikian singkatnya ya Ulie, mohon maaf jika jawabannya kurang memuaskan.
Insyaallah nanti jika tulisan mengenai hal tsb sdh siap, maka saya akan kirim alamat blog nya ya.

Waslm,
Egi

*be continued

Share/Bookmark

Thursday, November 11, 2010

"Important Thing for Prospective Bridegroom ;)

untuk calon pengantin laki-laki ku, suami ku :)
Calon pengantin, calon suami, calon ayah sekaligus calon khalifah Allah di muka bumi, persiapkanlah dirimu untuk menyempurnakan ibadah sebagai seorang laki-laki dewasa yang menyadari bahwa dirimu sudah baligh, sudah mukallaf, sudah menanggung beban syariat islam secara sempurna. Persiapan besar-besaran yang harus disempurnakan oleh seorang pengantin pria harus menjangkau keselamatan dirinya, istrinya dan keluarganya di sepanjang sisa umur di dunia, di alam barzakh dan di alam akhirat yang kekal. Ingat, semua akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.


Beberapa langkah penyempurnaan sebagai calon pengantin pria :
(1) Taubat Nasuha. Laki-laki sempurna bukan laki-laki yang tidak pernah berbuat kesalahan dan dosa, melainkan laki-laki yang menjaga diri dari perbuatan dosa, dan rajin bertaubat memohon ampun kepada Allah Ta'ala atas semua dosa besar maupun kecil.


(2) Taqarrub ila Allah : shalat, dzikir dan doa. Merapatlah sedekat mungkin kepada Allah. Sempurnakan sholat dengan memahami makna bacaannya. Basahi selalu bibir ini dengan Subhanallah. Alhamdulillah, wa Laa ilaha illa Allah, Allahuakbar. Angkat tanganmu, jadikan doa sebagai awal segala kegiatan. Jangan mengira baiknya semua urusan itu hanya karena kecerdasan dan keterampilan. Semua terjadi semata-mata karena diijinkan Allah. Memohonlah keberkahan yang sempurna dari Allah untuk semua amal yang kita lakukan, baik kecil maupun besar.


(3) Ta'lim. Perluas wawasan akal dengan ilmu yang bermanfaat mengenai segala hal, terutama yang berkaitan dengan akad nikah dan walimatul 'ursy. Bukalah Al-Quran dan kitab Hadist. Kedua rujukan itu adalah akar dari semua referensi kehidupan kita. Gunakan buku dan sumber ilmu yang lain selama itu merujuk dan memperkuat kecintaan Anda kepada Al-Quran dan Hadist. Jika tidak, atau bahkan menjauhkan dan melemahkan keyakinan kepada keduanya,maka tinggalkanlah.


(4) Tadrib Jasadiyah. Sempurnakan persiapan tubuh fisikmu dengan makanan yang bergizi tinggi, bukan berjumlah banyak. Perbanyak minum air putih, susu, madu, bahkan habbatussaudah. Berbekamlah karena Rasulullah Sallallahu'alaihi wassallam melakukan bekam secara rutin sebulan sekali. Berolahragalah. Siapkan tubuh mu untuk menghasilkan sel sperma yang shalih dan shalihah, sehat sempurna dan cerdas, yang dijelmakan Allah menjadi keturunan mu'min yang jauh lebih baik mutunya daripada sang suami maupun sang istri.


(5) Syahadah. Perbaharui syahadah sebagai mission statement mu. Nyatakan berkali-kali baik kepada dirimu sendiri, kepada calon pengantin perempuan, kepada orang tuamu, kepada sanak saudara handai taulan dan teman-temanmu, bahwa tekadmu melakukan pernikahan hanya karena Allah Ta'ala saja. Bukan karena tradisi, bukan karena diharuskan keluarga, bukan karena takut merusak harga diri, bukan karena malu kepada yang sudah menikah, apalagi bukan karena pelampiasan rasa kecewa atau sakit hati akibat masa lalu. Perbaiki niatmu, hanya karena Allah Ta'ala semata, "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah saja."


(6) Menyempurnakan Kesamaan Visi. Alangkah indahnya jika kelima visi diatas dimiliki tidak hanya oleh dirimu dan calon pengantin perempuan saja, tetapi juga dimiliki oleh seluruh anggota keluarga dari kedua belah pihak calon mempelai. 


(7) Persiapan Awal Kehidupan Berumah Tangga. Yang jauh lebih penting daripada prosesi akad nikah dan wallimatul'ursy yang hanya beberapa hari itu adalah penyempurnaan persiapan kehidupan berumah tangga melalui peningkatan kualitas "ibadah, "ilmu, dan "amal shaleh dirimu dalam skala yang jauh lebih besar dan nyaris tak terbatas.


Semoga Allah menyempurnakan semua persiapan menjelang hari bahagia itu kelak. Amin.. Hanya kepada Allah kita menggantungkan dan mengembalikan segala urusan, bukan kepada yang lain.


disusun oleh calon istrimu
referensi : Al-Quran & Aulia Magazine (Dzikrullah)
Share/Bookmark

Wednesday, November 10, 2010

(ˇ_ˇ'!l) ON NO ! 4 Hal Tersulit dalam Pernikahan


KOMPAS.com - Tahukah Anda, mengapa banyak sekali pasangan yang bercerai menyalahkan kurangnya komunikasi sebagai penyebab perpisahan mereka? Apa sulitnya berbicara? Bukankah berbicara adalah aktivitas yang sudah kita lakukan sejak kita masih pacaran?
Namun, berkomunikasi ternyata tak semudah yang Anda bayangkan. Ketika suami mulai sering pulang malam, dan Anda merasa begitu takut untuk menanyakan kemana ia pergi, artinya ada hambatan komunikasi dalam hubungan Anda. Sayangnya, hal ini sering tak disadari oleh kebanyakan pasangan.

Di luar masalah komunikasi, ternyata ada tiga hal lain yang dianggap paling menantang dalam suatu perkawinan. Keempat hal ini terungkap dalam jajak pendapat yang digelar oleh situs SheKnows, dimana ribuan wanita mengikutinya. Untuk Anda yang sedang merencanakan pernikahan atau baru memasukinya, hal-hal ini bisa menjadi bahan renungan.

1. Sebanyak 36 persen pembaca mengatakan bahwa bagian tersulit dalam pernikahan adalah: berbicara dengan pasangan Anda. Statistik bahkan menunjukkan bahwa kurangnya komunikasi merupakan salah satu penyebab utama perceraian di Amerika (mungkin juga di Indonesia).
Menurut Dr John Gray, penulis Men are From Mars, Women are From Venus, perbedaan dalam gaya komunikasi bisa dikaitkan dengan perbedaan struktural dalam otak pria dan wanita. Otak pria lebih besar dalam segi ukuran, sedangkan otak wanita memiliki lebih banyak jalur saraf.  Pria cenderung menggunakan otak kirinya, yang menunjukkan fokus pada logika dan pemecahan masalah. Perempuan menggunakan kedua sisi otaknya, dan itu sebabnya mengapa kita bisa menghubungkan emosi dengan bahasa dan logika.


Jurnal Psychological Review terbitan Juli 2000 mengungkapkan bahwa pria dan wanita secara biologis mengatasi stres dengan cara berbeda. Perempuan cenderung mencari penghiburan dari rekan-rekan perempuannya. Kita butuh mengungkapkan rasa takut, dan perhatian dari sesama kita ternyata mampu menurunkan hormon stres kita.
Sebaliknya, pria lebih memilih "ngumpet", atau menghilang dari peredaran. Mereka akan berusaha menghindar ketika Anda mulai mengatakan, "Kita harus bicara...", karena hal itu berarti mereka harus mengungkapkan perasaan. Dan inilah ketakutan mereka yang terbesar. Pilihan mereka hanya melawan (dengan sikap yang cenderung defensif), atau menghilang.
Mampukah kini Anda melihat perbedaannya? Curhat dengan teman membuat Anda tenang; bagi pria, hal itu justru membuat jengkel. Ketika Anda kesal karena suami selalu melemparkan handuk yang baru dipakai ke atas tempat tidur, tak usah berteriak, "Kamu itu jangan enaknya sendiri! Masa harus aku terus sih, yang... bla, bla, bla...." Akan lebih mengurangi masalah bila Anda mengatakan, "Sayang, tolong gantungin handuk di jemuran dong?"

2. Dalam hubungan harus ada rasa saling percaya. Ironisnya, mempercayai pasangan adalah problem kedua yang dialami rata-rata pasangan (24 persen dari pasangan yang disurvei mengakui hal tersebut). Menurut penelitian, sejak 1 April lalu, hampir 37 persen perempuan merasa curiga terhadap keberadaan pasangannya. Tepatnya sejak berita perselingkuhan Tiger Woods ramai diperbincangkan.


Terlepas dari apa yang dilakukan pasangan, Anda perlu mengetahui bahwa kurangnya kepercayaan bisa merusak hubungan Anda. "Hal ini bisa memisahkan keluarga, dan merupakan penghambat besar untuk pemulihannya," kata Dr Neil Cannon, seorang terapis seks.


3. Bagaimana cara Anda menggunakan uang, ternyata juga merupakan tantangan tersendiri dalam hubungan suami-istri (23 persen). Begitu pula persoalan keyakinan dan nilai-nilai dalam keluarga.
Sebanyak 9 persen perempuan mengaku tidak setuju mengenai bagaimana cara membesarkan anak. Keyakinan yang berbeda antara pasangan bisa menyebabkan perselisihan emosional dan verbal. Cara terbaik untuk mengatasi perbedaan keyakinan adalah dengan mengutarakan pikiran Anda secara logis, dan mendengarkan apa harapan-harapan pasangan. Pahami bagaimana latar belakang keluarganya, atau bagaimana dulu ia dibesarkan. Perbedaan budaya keluarga bukan berarti keluarga Anda lebih baik darinya, karena setiap keluarga memiliki budayanya sendiri. Dari situ, berusahalah untuk berkompromi.


4. Masalah yang terlihat sepele, namun ternyata cukup penting, adalah memutuskan: Keluarga siapa yang harus didahulukan? Sebanyak 6 persen perempuan mengeluhkan persoalan menghabiskan waktu dengan keluarga pasangannya pada hari raya keagamaan. Meluangkan waktu satu hari khusus dalam setahun untuk keluarga pasangan ternyata begitu berat untuk kita.
Namun, yakini hal ini: semakin tulus penghargaan dan rasa senang yang Anda alami bersama keluarga suami, semakin aman dan stabil pernikahan Anda. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Ketika Anda berkomitmen untuk mencari jalan keluar tersebut, bukan tak mungkin Anda akan menjalani pernikahan yang lebih menyenangkan.
Sumber: SheKnows
Share/Bookmark