Showing posts with label KEUANGAN. Show all posts
Showing posts with label KEUANGAN. Show all posts

Monday, November 15, 2010

:) Tanda Anda Sukses Mengelola Keuangan

Merasa butuh banget belajar mengenai keuangan. Memulai kehidupan baru, dengan tanggung jawab sebagai manager keuangan, tentunya membutuhkan the bigest trick, apapun itu yang bisa menjadi masukan, harus aku pelajari. Ketika punya sedikit waktu untuk bersantai, membaca apapun topik yang sedang terlintas di kepala anda. Jadikan sebagai pertanyaan-pertanyaan pendek. Buka laptop anda, and cari jawabannya. Catet jawabannya, simpen or bisa juga di save di berbagai account gratis.. :P supaya bisa berulangkali membacanya. Penyakit lupa itu kadang menyerang berbagai usia lho.. ha..ha..ha..
         Setiap orang pasti ingin mampu menghadapi situasi keuangan yang menguntungkan dalam hidupnya. Karena itu, mereka mengejar penghasilan yang tinggi agar merasa aman dengan kebutuhan hidupnya. Namun, apalah artinya gaji yang tinggi apabila Anda tidak mampu menabung, bukan? Sudah bukan rahasia lagi apabila dikatakan bahwa banyak orang berpenghasilan tinggi pun tidak mampu menabung dengan pantas akibat gaya hidup yang dianutnya.
Maka, yang lebih penting di sini adalah bagaimana Anda mampu mengelola keuangan Anda sehingga bisa menikmati hasilnya dengan layak. Anda tidak yakin apakah Anda telah mengelola keuangan Anda dengan baik? Coba simak tanda-tandanya berikut ini.

1. Anda lebih banyak menabung daripada membelanjakan uang. Boleh dibilang, inilah langkah fundamental menuju keuangan yang sukses. Prinsip pertama ini dapat Anda patuhi, tak peduli meskipun ada biaya-biaya tak terduga yang terjadi, misalnya biaya kesehatan yang tiba-tiba harus dipenuhi. Dalam kasus seperti ini bisa saja Anda memang mendahulukan pengeluaran untuk kesehatan daripada menabung. Namun, pada saat lain, Anda mampu hidup dengan pengeluaran lebih sedikit daripada penghasilan Anda. 

2. Anda menghargai komitmen terhadap uang. Orang yang dengan segera bisa memenuhi kewajiban finansial akan menyadari bahwa semua upaya mereka itu lebih menguntungkan. Misalnya saja, Anda membeli barang yang sedikit mahal dengan menggunakan kartu kredit, tetapi Anda membayar lunas sebelum jatuh tempo. Maka, Anda mendapatkan keuntungan dengan memperpanjang masa pembayaran barang tersebut.

3. Anda tidak memiliki utang. Salah satu faktor penting yang membedakan orang yang menang dan yang kalah adalah utang. Pinjaman rumah atau pinjaman untuk modal usaha memang menguntungkan; yang sebaiknya tidak dilakukan adalah pinjaman pribadi untuk berbagai produk elektronik, perabotan rumah, atau benda-benda lain yang hanya mampu Anda bayar secara minimum payment. Penggunaan kartu kredit seringkali memang menjebak. Pahamilah bahwa keuntungan kartu kredit adalah pada kenyamanan ketika Anda tidak membawa uang tunai untuk membayar barang. Seperti telah disebut di atas, ketika tagihan datang, bayarlah secara lunas sebelum jatuh tempo.

4. Anda selalu bersikap skeptis. Dalam mengarungi jalan untuk menuju kesejahteraan, Anda akan menemui berbagai godaan. Hindari godaan ini dengan menerapkan sikap skeptis. Misalnya, menahan godaan untuk berbelanja saat midnight sale (Anda meragukan bahwa harga yang terpampang merupakan harga yang memang sudah didiskon sehingga layak atau tidak untuk dibeli). Anda tidak gegabah membuat investasi hanya karena dibujuk seorang teman atau keluarga. Anda berusaha memahami mengapa seseorang yang tidak memiliki pengetahuan berani mempertaruhkan uang yang tidak sedikit untuk diinvestasikan. Bukan berarti Anda tidak boleh, hanya saja selalu berpikir dua kali apakah godaan tersebut layak dituruti atau tidak.

5. Anda mampu pensiun pada usia 50 tahun. Pensiun dini memang didambakan banyak orang, dan tidak ada patokan khusus pada usia berapa Anda mampu melakukannya. Anda memang masih perlu mempertimbangkan tahun-tahun yang akan Anda jalani sesudahnya. Jika separuh awal dari hidup Anda dihabiskan untuk mengumpulkan uang, masuk akal jika selama separuh hidup Anda sesudahnya Anda bisa mengandalkan uang yang telah Anda kumpulkan itu. Kebanyakan orang yang sukses memang mengejar kekayaan selama mereka mampu. Namun, pilihan ada di tangan Anda.  

6. Anda memiliki reputasi kejujuran. Reputasi sebagai orang yang jujur adalah salah satu aset paling bernilai yang bisa dimiliki seseorang. Tidak ada pintu yang terbuka, atau kesempatan yang ditawarkan kepada orang yang kata-kata dan tindakannya tidak dapat dipercaya. Lakukan pekerjaan atau kegiatan Anda dengan cara di mana keandalan Anda tidak perlu dipertanyakan lagi. Karakter seperti ini jelas merupakan patokan orang yang sukses.

Kekayaan, setidaknya sejumlah kecil yang mampu Anda miliki merupakan kriteria penting dalam kesuksesan. Meskipun begitu, memiliki kekayaan saja tidak akan cukup. Kombinasi dari aset, gaya hidup, dan 
attitudeadalah yang menghasilkan kesuksesan.

Sumber: SheKnows

Share/Bookmark

Wednesday, November 10, 2010

:) 5 Kewajiban dalam Mengelola Keuangan


Apapun pekerjaan Anda, dan berapapun penghasilan setiap bulannya, seharusnya bisa dikelola lebih baik untuk menghindari defisit. Pengelolaan dan perencanaan keuangan yang tepat akan memberikan solusi masalah keuangan. Termasuk membangun kemandirian, terutama bagi perempuan kepala keluarga.

Nini Sumohandoyo, Corporate Marketing & Communication Director Prudential Indonesia mengatakan, perempuan kerapkali menyangkal tak pernah bisa menyisihkan uang. Termasuk untuk menabung apalagi berinvestasi. Padahal, dengan mengurangi konsumsi barang yang tidak terlalu penting (dengan kondisi keuangan terbatas), seperti perhiasan atau pakaian berbeda variasi model dan warna, perempuan bisa menyisihkan Rp 300.000 setiap bulannya.

"Dengan menyisakan uang Rp 300.000 saja, perempuan bisa menabung, memiliki asuransi atau investasi lainnya," kata Nini, di sela pelatihan pengelolaan dan perencanaan keuangan untuk 300 perempuan pedagang kaki lima, diadakan oleh Prudential Indonesia di Wisma Mandiri, Jakarta, Rabu (14/7/2010).

Nini memaparkan tahapan yang bisa dimulai perempuan dalam mengelola keuangannya:
1. Melunasi hutang
Meskipun pengelolaan keuangan sudah terlanjur berantakan, belum terlambat untuk memperbaikinya. Apalagi jika Anda memiliki sejumlah hutang untuk tambal sulam. Mulailah menyisihkan uang dari pendapatan untuk membayar hutang. Bagaimanapun hutang menjadi kewajiban Anda. Hutang yang tak terbayar, lambat laun akan merusak kredibilitas Anda. Reputasi Anda dipertaruhkan jika kewajiban (hutang) tak kunjung dilunasi. Alokasikan maksimum 30 persen dari gaji sebulan untuk membayar cicilan atau hutang.
2. Menabung
Yakinkan diri Anda, bahwa berapapun nilai penghasilan, sangat bisa disisihkan untuk menabung. Alokasikan dana 10 - 20 persen dari penghasilan untuk ditabung. Untuk bisa menjalankan perencanaan ini, batasi konsumsi. Perempuan kerapkali tergoda dengan berbagai barang yang sebenarnya tak terlalu penting dibeli. Bahkan terkadang hanya terbawa pengaruh teman atau tren. Mulailah tegas kepada diri sendiri, dengan membuat prioritas kebutuhan yang jauh lebih penting.
3. Dana darurat
Siapkan juga dana cadangan sebagai dana darurat. Selalu akan ada kebutuhan tak terduga, seperti sakit keras sehingga harus dirawat. Rumah sakit membutuhkan biaya tak sedikit bukan? Mulailah menyisihkan dana sebesar lima persen dari penghasilan bulanan. Siapkan dana darurat hingga enam bulan ke depan. Sebagai langkah antisipasi, buatlah rekening pasif khusus untuk dana darurat, atau merangkap sebagai tabungan. Pisahkan rekening pasif ini dari rekening aktif yang khusus untuk kebutuhan sehari-hari.
4. Asuransi
Setelah dikurangi kebutuhan rutin bulanan, membayar hutang, menabung, dan persiapan dana darurat, sisa penghasilan bisa digunakan untuk membeli asuransi.

Utamakan asuransi jiwa untuk kepala keluarga. Siapapun yang menjadi tulang punggung keluarga, perempuan atau lelaki, sebaiknya memiliki asuransi jiwa. Karena jika terjadi sesuatu kepada kepala keluarga, kehidupan keluarga masih bisa berjalan dan dinafkahi dari asuransi untuk waktu tertentu.

Selain asuransi jiwa, jenis asuransi lain yang juga bisa diprioritaskan di antaranya asuransi kesehatan. Asuransikan juga properti, apalagi yang digunakan untuk berbisnis, seperti kios atau toko.
5. Investasi
Menyisihkan uang untuk investasi, sebaiknya dilakukan setelah kewajiban di atas terpenuhi. Bentuk sederhananya, jika memiliki dana lebih, investasikan uang Anda dalam bentuk emas. Namun sebaiknya hati-hati saat berinvestasi emas, perhatikan dan pahami nilai jual dan kualitasnya.

Mengalokasikan uang untuk investasi bisa diambil dari sumber pendapatan lain. Seperti THR, bonus, warisan, atau pendapatan lain di luar penghasilan utama. Bentuk investasi banyak macamnya, risikonya bervariasi, begitupun dengan nilai investasinya di kemudian hari. Sebaiknya kenali lebih cermat produk investasi sebelum memilihnya.

Jika kelima kewajiban ini sudah terpenuhi, monitor pengeluaran dan sesuaikan dengan rencana yang sudah dibangun. Displin menggunakan uang menjadi kunci keberhasilan pengelolaan keuangan.

WAF
Referensi dan Literatur
Share/Bookmark

:) Rencana Keuangan (Important banget nih ^^,)


Tak bisa disangkal, masalah keuangan kerapkali menjadi penyebab utama kehancuran hubungan. Dalam perselisihan yang terjadi dalam keluarga, uang acapkali menjadi pemicunya. Letak masalahnya, di antaranya karena minim komunikasi, dan tidak adanya perencanaan keuangan yang tepat.

Barton Goldsmith, psikoterapis dan penulis Emotional Fitness for Intimacy, mengatakan masalah keuangan menjadi penyebab nomor satu perceraian. "Jika tidak menguasai bahasa kompromi, hubungan mudah sekali terganggu," katanya.
Untuk bisa merencanakan keuangan dengan baik, Anda tentu perlu lebih dahulu membahas seputar keuangan bersama pasangan, orangtua, atau anak-anak. Apa saja yang perlu dipikirkan?

1. Jurnal pengeluaran.
Anda dan pasangan perlu membicarakan pengeluaran keuangan. Untuk apa uang Anda digunakan, ini isu utamanya.
Menurut Goldsmith, setiap pasangan wajib membicarakan isu ini, sekalipun Anda merasa keuangan baik-baik saja dan terkendali. Tujuan mengontrol keuangan secara rutin di antaranya agar Anda bisa menganalisa apakah perlu membuat perubahan prioritas.
Cara menjalani kontrol keuangan semacam ini adalah dengan membuat jurnal pengeluaran personal dan rumah tangga. Anda dan pasangan perlu membuat jurnal ini masing-masing. Manfaatnya, di penghujung bulan Anda dan pasangan bisa mengevaluasi kondisi keuangan. Jurnal ini membantu Anda untuk tetap berada dalam kondisi keuangan yang stabil. Sekaligus juga bisa melihat, apakah perlu ada pengeluaran yang dikurangi atau menambah tabungan.

2. Pembagian tugas.
Hidup berpasangan membutuhkann kompromi dan kerjasama. Termasuk dalam berbagi peran dalam hal keuangan. Konflik sangat bisa dihindari dengan adanya pembagian tugas yang jelas. Dengan begitu, Anda bisa menghindari situasi tak menyenangkan yang menjadi sumber perselisihan. Seperti, salah satu pihak merasa terbebani karena harus mengurus semua hal sendirian.
Caranya, buatlah daftar kewajiban yang terkait dengan kebutuhan rumah tangga. Mulai membeli gas untuk memasak hingga tagihan listrik. Berbagilah peran siapa membayar apa. Untuk menjalani tugas ini, lakukan rapat bulanan. Ketika berbicara soal uang, Anda tak bisa menyepelekan.

3. Dana pensiun.
Anda dan pasangan boleh jadi sudah terpikir memiliki atau bahkan sudah memiliki dana pensiun dari perusahaan. Namun sudahkah dana pensiun ini terencana dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan Anda berdua nantinya?
Bicarakan seputar dana pensiun ini bersama pasangan. Jika merasa perlu berinvestasi bersama untuk menyiapkan pensiun, cari solusi bersama. Kalau memang perlu bantuan perencanaan keuangan, mulailah mencari jasa perencana keuangan yang Anda sepakati bersama pasangan. Kondisi ekonomi tak menentu mengharuskan Anda dan pasangan bersiap atas segala situasi.
"Berdiskusi dengan perencana keuangan memberikan keuntungan lain, karena bisa memberikan saran yang lebih obyektif,' jelas Goldsmith.  

4. Rencana investasi.
Ragam pilihan investasi boleh jadi menggiurkan bagi Anda dan pasangan, terkait dengan perencanaan keuangan yang lebih optimal untuk masa depan.
Waktu yang tepat membicarakan investasi adalah saat akhir tahun, kata Goldsmith. Pada waktu inilah seseorang biasanya mengevaluasi kembali kondisi keuangan mereka. Untuk memilih investasi, pastikan Anda dan pasangan sudah dilengkapi dengan berbagai informasi yang tepat. Dengan informasi yang tepat, Anda bisa menakar risiko investasi dan kemampuan keuangan.
Untuk menyatukan pandangan seputar investasi, Anda dan pasangan perlu memiliki perspektif yang sama. Bahwa apapun rencana keuangan yang akan dibuat atau dijalankan, keberlangsungan hubungan di atas segalanya. Jadi pastikan, Anda dan pasangan sepenuhnya mengedepankan hubungan atas segala perbedaan pendapat atau kekhawatiran berinvestasi.

5. Membeli gadget untuk anak.
Teknologi semakin canggih. Semakin banyak produk ditawarkan dan menggiurkan, bahkan untuk anak-anak. Ponsel, iPad, dan lainnya, seakan menjadi kebutuhan premier dan bukan tersier lagi. Sebagai orangtua Anda perlu membicarakan sifat konsumtif kepada anak-anak. Belanja barang seperti ini tentunya menyangkut keuangan bukan?
Orangtua perlu memberikan pemahaman kepada anak mengenai prioritas kebutuhan. Apa yang penting dan tidak untuk dimiliki mereka. Dengan begitu anak bisa memilah kebutuhannya.
Bersikaplah terbuka, karena anak juga perlu memahami kondisi keuangan orangtuanya. Berikan salinan anggaran rumah tangga kepada anak. Anak belajar tentang manajemen keuangan dari cara ini.

6. Kartu kredit untuk anak.
Anak di bawah 18 tahun, saat duduk di bangku SMP atau SMA, boleh jadi membutuhkan kartu kredit. Namun jika merasa perlu memberikan kartu kredit kepada anak, ajarkan cara penggunaan yang bijak lebih dahulu. Pinjamkan saja kartu kredit Anda, lalu evaluasi seperti apa anak Anda menggunakannya.
Menurut Jennifer Austin Leigh, PsyD, psikolog dan penasehat keluarga di Ney York, orangtua perlu memberikan pembatasan. Awali penggunaan kredit dengan limit kecil. Jika anak mampu mempertanggungjawabkannya, tambahkan lebih tinggi.
"Jika orangtua memberikan limit kredit tinggi sejak awal, Anda tengah mengajarkan kegagalan kepada anak," tegas Leigh. Berikan pemahaman lengkap seputar kartu kredit, dari cara penggunaan, tanggung jawab, dan risikonya.

7. Biaya pendidikan anak.
Anda dan pasangan perlu membicarakan biaya pendidikan sejak anak dilahirkan, kata Kalman A. Chany, pendiri Campus Consultants. Mulailah menabung atau pertimbangkan sejumlah perencanaan keuangan yang terkait dengan biaya pendidikan anak.
Langkah awalnya, lakukan investasi. Pilihlah jenis investasi yang paling nyaman dan sesuai kemampuan Anda. Jika merasa tak yakin dengan keputusan berdua bersama pasangan, carilah perencana keuangan untuk membantu Anda membuat keputusan.
Libatkan juga anak ketika akan membicarakan biaya kuliah. Menjelang kuliah, anak sudah lebih bisa memahami kondisi keuangan orangtuanya. Ajak anak bicara tentang kondisi keuangan keluarga, dan diskusikan pilihan universitas berikut biaya yang dibutuhkan. Pembicaraan yang terbuka seperti ini penting dilakukan orangtua bersama anak, agar tercipta kesepakatan bersama.

8. Membantu keuangan orangtua.
Orangtua Anda boleh jadi sudah menyiapkan dana pensiun, namun apakah sudah mencukupi kebutuhannya di usia senja? Tak sedikit anak, meski sudah berkeluarga, tetap memberikan kontribusi keuangan kepada orangtuanya. Riset dari Pew Research Center di Washington DC menunjukkan 30 persen anak saat dewasa berkontribusi atas keuangan orangtuanya.
Sebagai anak, Anda bisa membicarakan kontribusi keuangan untuk orangtua bersama saudara sekandung lainnya. Umumnya orangtua tak ingin merepotkan anaknya dan enggan membicarakan kesulitan keuangannya. Sebaiknya minta saudara tertua untuk menyampaikan rencana keuangan keluarga untuk membantu orangtua. Jika Anda sudah menikah, kontribusi keuangan untuk orangtua juga perlu disepakati bersama pasangan.  

9. Asuransi kesehatan untuk orangtua.
Jangan menunggu hingga orangtua berusia 50-60 tahun, baru Anda mempertimbangkan untuk membuat asuransi kesehatan untuk mereka. Siapkan asuransi kesehatan bagi orangtua secepat mungkin, supaya Anda tidak merasa keberatan bila suatu saat orangtua sakit berat.
Perbanyak informasi yang tepat sebelum memilih produk asuransi kesehatan jangka panjang. Berikan pengertian kepada orangtua mengenai manfaat asuransi ini. Karena belum tentu mereka merasa perlu membeli produk asuransi, atau karena tak ingin merepotkan anaknya. Berikan contoh kasus keluarga atau teman yang kesulitan membayar biaya kesehatan tanpa asuransi. Lalu ajak orangtua Anda bicara mengenai pilihan produk asuransi yang sudah Anda cari tahu sebelumnya.

10. Wali keuangan.
Dalam keadaan darurat, siapa yang bisa Anda percaya untuk mengurus keuangan Anda? Begitupun dengan orangtua Anda. Saat usianya semakin menua, kepada siapa keputusan keuangan akan diserahkannya?
Bicarakan kepada orangtua Anda tentang wali keuangan keluarga ini. Jika merasa lebih adil dengan menyewa pengacara, buatlah kesepakatan keluarga. Atau jika merasa nyaman dengan keluarga, tunjuklah orang yang paling dipercaya untuk mengelola keuangan keluarga.
Pembicaraan ini bukan soal warisan. Namun, lebih kepada persiapan pengelolaan keuangan keluarga yang lebih terkendali. Dengan dibicarakan sejak awal, Anda dan keluarga berjalan di atas kesepakatan bersama seputar keuangan keluarga, dengan lebih nyaman dan terencana.



Share/Bookmark